Wednesday, April 22, 2009

Mengapa Diplomasi dan Sekatan Tdak Boleh Dicampurkan

oleh Trita Parsi

17 Disember 2008

Washington, DC – Perubahan sering terjadi lebih cepat daripada yang bisa dipahami orang. Itulah yang terjadi pada realitas politik di Washington tentang Iran.

Dalam waktu kurang dari 50 hari, Amerika akan dipimpin oleh seorang presiden yang membuat dialog dengan Teheran sebagai janji kampanyenya .

Lebih mengejutkankan lagi, salah satu kelompok lobi paling berkuasa di Washington gagal untuk meyakinkan Kongres AS untuk meloloskan sebuah resolusi yang menyerukan blokade laut terhadap Iran. Padahal resolusi itu didukung oleh lebih dari 250 sponsor .

Debat tentang Iran di Washington saat ini bukanlah lagi soal perlu atau tidaknya berunding. Tetapi bagaimana, kapan, dan seperti apa tahapan perundingan-perundingan tersebut harus berlangsung. Namun ini tidak berarti bahwa dialog akan terjadi atau akan berhasil. Lanskap politik di Washington belumlah berubah. Washington masih tergantung pada penggunaan sanksi ekonomi untuk memperlihatkan kekuatan dan pengaruhnya.

Berbicara pada kepada Komite Urusan Publik Masyarakat Amerika Israel awal tahun ini, Presiden terpilih Barack Obama, mengatakan bahwa ia akan berpegang teguh pada seruannya untuk berunding dengan Iran dan menghentikan sikap “kalah sebelum bertanding”. Untuk memenuhi janjinya itu, Obama nampaknya telah berusaha untuk menyeimbangkan posisi pro-dialognya dengan mengadopsi kemungkinan untuk menambah sanksi ekonomi terhadap Iran.

Dalam kapasitasnya sebagai seorang senator, Obama adalah pendukung utama Undang-Undang Sanksi Komprehensif Iran, Akuntabilitas dan Pelucutan 2008 (Comprehensive Iran Sanction, Accountability, and Divestment Act 2008). Undang-undang ini akan mempertegas sanksi-sanksi yang ada sekarang dan membuka kemungkinan bagi terjadinya pelucutan lain. Obama berpendapat pada waktu itu bahwa sanksi-sanksi tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari strategi diplomasi. "Selain upaya diplomasi yang agresif, langsung, dan berprinsip, kita harus terus meningkatkan tekanan ekonomi atas Iran", ujar Obama. Sebagian penasihat Obama telah membawa pernyataan ini selangkah lebih maju dan berpendapat bahwa gertakan (diumpamakan stick)– yang berarti sanksi-sanksi – harus diberikan lebih dulu dalam setiap pendekatan bujuk dan gertak (carrot and stick approach) apapun terhadap Iran.

Obama benar dalam soal pentingnya menggabungkan insentif dan ancaman untuk mendekati Iran. Sanksi-sanksi, secara teroritis, memang dapat membuat Amerika Serikat lebih berpengaruh atas Iran. Namun, cara berpikir seperti ini cukup bermasalah karena sebetulnya sanksi-sanksi yang sedang berlaku saat ini pun sudah membuat Amerika cukup berpengaruh.

Tetapi pengaruh ini hanya dapat digunakan dalam konteks negosiasi. Sanksi bisa berfungsi penting dalam negosiasi Amerika dengan Iran jika Washington bersedia untuk menghentikan sanksi tersebut dengan syarat Iran harus bisa merubah sikapnya secara signifikan.

Kesediaan seperti itu sejauh ini belum ada di Washington. Pengaruh, dalam pemerintahan Bush, masih difahami sebagai sebuah kemampuan untuk memperoleh sesuatu secara cuma-cuma. Pendekatan seperti itu jelas telah gagal; ia tidak mencerminkan negosiasi, tetapi lebih merupakan ultimatum dan ancaman.

Dalam negosiasi, Anda hanya akan memperoleh sesuatu dengan memberikan sesuatu. Dan sebetulnya memang bukan ancaman atau pemberlakukan sanksi baru yang akan mengubah perilaku Iran, tetapi justru tawaran untuk menghentikan sanksi-sanksi yang sekarang berlaku. Dengan pemberhentian sanksilah, Amerika bisa menguatkan pengaruhnya atas Iran.

Tapi tentu saja pengaruh ini hanya berfungsi jika Washington dan Teheran bersedia untuk maju ke meja perundingan. Karena itu, tendensi untuk memaksakan sanksi-sanksi baru sebelum pelaksanaan perundingan akan sangat menggangu agenda Obama. Memberlakukan sanksi-sanksi baru atas Iran – apakah sanksi itu berdasarkan kesepakatan kongres atau perintah eksekutif – hanya akan mengurangi prospek bagi diplomasi. Sanksi akan merusak suasana yang sekarang sudah mulai kondusif dan malah semakin meningkatkan ketidakpercayaan antara kedua pemerintahan. Akibatnya, Amerika justru akan kehilangan kesempatannya untuk menambah pengaruh atas Iran.

Hal yang sama tentu saja berlaku untuk Iran. Jika Teheran terus berusaha untuk melemahkan kebijakan-kebijakan Washington di kawasan Timur tengah untuk meningkatkan pengaruhnya di hadapan AS, itu hanya akan membuat perundingan menjadi lebih tidak mungkin.

Agar berhasil dengan agenda pro-diplomasinya, Obama tidak hanya harus menghindari anggapan yang menyesatkan bahwa Washington tidak memiliki pengaruh atas Iran. Ia juga harus mengakui bahwa memberhentikan sanksi-sanksi bisa jadi merupakan cara untuk membuat Iran berubah. Ia juga harus menahan diri untuk tidak mengacaukan proses menuju perundingan dengan memberlakukan sanksi baru. Tapi pertama-tama, ia harus membebaskan diri dari tekanan pemilih dalam negeri yang, secara historis, motivasinya untuk memberlakukan sanksi telah menghalangi terjadinya terobosan diplomatik AS-Iran.

Dengan demikian, kombinasi antara insentif dan ancamanlah yang akan mengamankan kepentingan-kepentingan AS di hadapan Iran. Di dalamnya, diplomasi harus menjadi yang utama dan sanksi-sanksi sebagai tambahan– bukan sebaliknya.

Trita Parsi adalah penulis buku Treacherous Alliance- the Secret Dealing of Israel, Iran and the US. Ia penerima medali perak Arthur Ross Book Award dari Dewan Hubungan Luar Negeri. Artikel ini disebarluaskan oleh Common Ground News Service (CGNews) dengan izin dari Bitterlemons-International.org.

Sumber: Bitterlemons-Internasional.org, 4 Desember 2008, www.bitterlemons-international.org.

No comments:

Post a Comment