Wednesday, April 22, 2009

Fadlallah: AS dan Iran Bisa Bekerja Sama

BEIRUT, KOMPAS.com - Tokoh ulama Syiah Lebanon, Selasa (14/4) di Beirut, menyampaikan keyakinannya bahwa AS di bawah Presiden Barack Obama akan bisa bekerja sama dengan Iran. Namun, kerja sama itu tidak akan menjadi persekutuan erat antara kedua negara tersebut.

Ayatollah Akbar Mohammed Hussein Fadlallah mengungkapkan keyakinannya bahwa Presiden Barack Obama tulus dalam upayanya memperbaiki apa yang disebut sang ulama sebagai ”citra buruk” Amerika di Dunia Arab dan Muslim.

Fadlallah adalah seorang mantan tokoh spiritual kelompok Hezbollah yang didukung Iran. Dia masih berpengaruh di antara para pengikut garis keras Syiah. Para pejabat Iran yang datang ke Lebanon pun kerap mengunjungi ulama terkemuka itu.

Fadlallah mengatakan, hubungannya dengan Iran tetap baik meski ”ada perbedaan pandangan” atas beberapa masalah. Namun, dia menolak menjelaskannya lebih jauh mengenai perbedaan-perbedaan itu.

Fadlallah (73) adalah pemimpin resmi tertinggi untuk sekitar 1,2 juta pengikut Syiah di Lebanon, kelompok komunitas terbesar di Lebanon.

Dia mengatakan, ada peluang untuk berdialog antara AS dan Uni Eropa di satu sisi, dengan Iran di sisi lain, terkait masalah program nuklir Iran ataupun masalah-masalah lain yang menjadi kepentingan AS, seperti Afganistan dan Irak.

Balikkan kebijakan

Sejak memegang jabatan sebagai Presiden, Januari lalu, Obama secara terbuka sudah berusaha merangkul Iran dalam pidato-pidatonya. Pemerintahannya juga membalikkan kebijakan Presiden AS sebelumnya, George W Bush, dan mengatakan berniat berunding secara langsung dengan Iran atas program nuklir negara itu, yang menjadi pokok ketegangan kedua negara.

Obama juga telah merangkul Suriah, yang pada masa pemerintahan Bush telah diisolasi karena dukungannya kepada kelompok-kelompok garis keras.

Saat berkunjung ke Turki, awal April lalu, Obama menyampaikan kepada dunia Muslim bahwa AS, ”Tidak dan tidak akan pernah berperang dengan Islam.”

Menurut Fadlallah, ketekunan Iran dan kemampuan mereka memasuki industri militer dan nuklir telah memaksa negara-negara Barat berbicara dengannya dalam posisi yang berbeda dari sebelumnya.

Meski demikian, Fadlallah menolak kemungkinan aliansi AS-Iran untuk menghentikan konflik-konflik regional. ”Tetapi, sangat mungkin kedua negara membangun hubungan yang normal,” kata Fadlallah.

Pemimpin Syiah Lebanon itu juga tidak percaya dengan kemungkinan serangan udara Israel yang didukung AS terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran. Akan tetapi, disebutkan, pemerintahan garis keras baru di Israel bisa saja mengobarkan kembali perang terhadap Palestina, Suriah, dan Lebanon.

”Kami telah mendengar kata-kata yang indah (dari Obama). Namun, persoalannya adalah apakah kata-kata itu bisa diwujudkan menjadi kenyataan?” ujar Fadlallah seperti juga pernah disampaikan pejabat-pejabat Iran.

Dia menambahkan, Obama berusaha memperbaiki citra AS, tetapi masalahnya adalah AS bukanlah negara yang didasarkan atas individu-individu semata, tetapi sebuah negara yang berdasarkan kekuatan lembaga.

Fadlallah menguraikan, kebuntuan perundingan damai Israel-Palestina menjadi ujian pertama bagi pemerintahan baru AS. Hal itu sekaligus menjadi ukuran, apakah Obama mampu menekan Israel untuk berkompromi.

Ditambahkan, dukungan terhadap Israel dari sejumlah anggota Kongres AS dan kelompok-kelompok lobi pro-Israel bisa menjadi halangan untuk meningkatkan hubungan AS dengan dunia Arab.

Fadlallah menolak tuduhan Mesir bahwa Hezbollah telah merekrut orang-orang untuk melakukan serangan di Mesir. Dia menilai tuduhan itu hanya untuk menghancurkan citra Hezbollah yang bertempur dengan Israel di Lebanon selatan.

http://id.news.yahoo.com/kmps/20090416/twl-fadlallah-as-dan-iran-bisa-bekerja-s-70701a2.html

No comments:

Post a Comment

Post a Comment