Friday, April 10, 2009

Di Sebalik Serangan Terhadap Iraq

Rencana perang Irak, yang dilancarkan meski mendapat tentangan dari seluruh dunia, telah dipersiapkan setidaknya puluhan tahun lalu oleh para ahli strategi Israel. Dalam upayanya mewujudkan strategi pelemahan atau pemecahbelahan negara-negara Arab Timur Tengah, Israel memasukkan Mesir, Syiria, Iran dan Saudi Arabia dalam daftar sasaran berikutnya.

Saat tulisan ini disusun, Amerika Serikat (AS) telah memulai penggempuran terhadap Irak. Meskipun kenyataannya kebanyakan negara di seluruh dunia, bahkan sebagian besar sekutu AS sendiri, menentangnya, pemerintahan AS bersikukuh untuk meneruskan rencana serangannya. Ketika kita melihat apa yang ada di balik sikap keras kepala AS ini, maka Israel-lah satu-satunya yang bertanggung jawab atas pertumpahan darah dan penderitaan di Timur Tengah sejak awal abad kedua puluh. Kebijakan pemerintah Israel yang ditujukan untuk memecah-belah Irak memiliki akar sejarah yang panjang"

Rencana Israel Membagi Irak

Laporan berjudul "A Strategy for Israel in the Nineteen Eighties" (Strategi Israel di Tahun 1980-an), oleh majalah berbahasa Ibrani terbitan Departemen Informasi, Kivunim, bertujuan menjadikan seluruh kawasan Timur Tengah sebagai wilayah pemukiman Israel. Laporan tersebut, yang disusun oleh Oded Yinon - seorang wartawan Israel yang pernah dekat dengan kementrian luar negeri Israel - memaparkan skenario "pembagian Irak" sebagaimana berikut:

Irak, negeri kaya minyak yang menghadapi masalah perpecahan dalam negeri, dijamin bakal menjadi sasaran Israel. Mengakhiri riwayat Irak jauh lebih penting bagi kita ketimbang Syria" Sekali lagi, Irak pada intinya tidaklah berbeda dengan para tetangganya, meskipun sebagian besar penduduknya adalah penganut Syi'ah dan sebagian kecil Sunni yang menguasai pemerintahan. Enam puluh lima persen penduduknya tidak memiliki andil dalam politik di negara di mana sekelompok elit berjumlah 20 persen memegang kekuasaan. Selain itu terdapat minoritas Kurdi berjumlah besar di wilayah utara, dan jika bukan karena kekuatan rezim yang memerintah, angkatan bersenjatanya, dan pemasukannya dari minyak, masa depan Irak akan takkan berbeda dengan nasib Libanon di masa lalu" Dalam kasus Irak, pembagiannya menjadi sejumlah provinsi berdasarkan garis suku atau agama sebagaimana yang terjadi pada Syiria di masa kekhalifahan Utsmaniyyah adalah sesuatu yang mungkin. Jadi, tiga (atau lebih) negara kecil akan terbentuk di sekitar tiga kota utama: Basrah, Baghdad, dan Mosul; dan wilayah kaum Syi'ah di selatan akan terpisah dari wilayah kaum Sunni dan suku Kurdi di utara.

Kita hanya perlu sedikit mengingat kembali bagaimana skenario ini sebagiannya telah dilakukan pasca Perang Teluk 1991, di mana Irak secara efektif, kalau tidak secara resmi, dibagi menjadi tiga wilayah. Fakta bahwa rencana AS menduduki Irak, yang sedang dilakukan saat tulisan ini dibuat, dapat kembali mendorong terbaginya wilayah tersebut, merupakan sebuah ancaman nyata.

Peranan Israel dalam Perang Teluk

Penerapan strategi Israel telah dilakukan sejak tahun 1990. Saddam Hussein menyerbu Kuwait dalam serangan mendadak pada tanggal 1 Agustus 1990, sehingga memunculkan krisis internasional. Israel menjadi pemimpin bagi kekuatan-kekuatan yang mendorong terjadinya krisis itu. Israel adalah pendukung tergigih sikap yang dianut AS menyusul serangan terhadap Kuwait. Kalangan Israel bahkan menganggap AS bersikap moderat, dan menginginkan adanya kebijakan yang lebih keras. Sedemikian jauhnya sehingga Presiden Israel, Chaim Herzog, menganjurkan agar AS menggunakan bom nuklir. Di sisi lain, lobi Israel di AS tengah berupaya untuk mendorong terjadinya serangan berskala luas atas Irak.

Seluruh keadaan ini mendorong terbentuknya pandangan di AS bahwa serangan terhadap Irak yang sedang dipertimbangkan, sesungguhnya dirancang demi kepentingan Israel. Komentator terkenal, Pat Buchanan, merangkum pandangan ini dalam kalimat " Hanya ada dua kelompok yang menabuh genderang perang di Timur Tengah - Kementrian Pertahanan Israel dan kelompok pendukungnya di Amerika Serikat." (http://www.infoplease.com/spot/patbuchanan1.html)

Israel juga telah memulai kampanye propaganda serius dalam masalah ini. Karena kampanye ini sebagian besar dilancarkan secara rahasia, maka Mossad pun terlibat pula. Mantan agen Mossad, Victor Ostrovsky, memberikan informasi penting mengenai hal ini. Menurutnya, Israel telah berkeinginan melancarkan peperangan bersama AS melawan Saddam jauh sebelum krisis Teluk. Bahkan Israel telah memulai melaksanakan rencana tersebut segera setelah berakhirnya perang Iran-Irak. Ostrovsky melaporkan bahwa departemen Perang Psikologi Mossad (LAP - LohAma Psicologit) melancarkan kampanye ampuh menggunakan teknik disinformasi. Kampanye ini ditujukan untuk menampilkan Saddam sebagai seorang diktator berdarah dan ancaman bagi perdamaian dunia. (Victor Ostrovsky, The Other Side of Deception, hlm. 252-254).

Agen Mossad Berbicara tentang Perang Teluk

Ostrovsky menjelaskan bagaimana Mossad menggunakan para agen atau simpatisan di berbagai belahan dunia dalam kampanye ini dan bagaimana, misalnya, Amnesty International atau "para penolong Yahudi sukarelawan (sayanim)" di konggres AS dikerahkan. Di antara cara yang digunakan dalam kampanye tersebut adalah rudal yang diluncurkan ke sasaran-sasaran penduduk sipil di Iran selama perang Iran-Irak. Sebagaimana dijelaskan Ostrovsky, penggunaan rudal-rudal ini oleh Mossad di kemudian hari sebagai sarana propaganda sungguh janggal, sebab rudal-rudal tersebut ternyata telah diarahkan ke sasarannya oleh Mossad, dengan bantuan informasi dari satelit AS. Setelah mendukung Saddam selama perangnya melawan Iran, Israel kini tengah berupaya menampilkannya sebagai seorang monster. Ostrovsky menulis:

Para petinggi Mossad mengetahui bahwa jika mereka dapat menjadikan Saddam terlihat sebagai sosok sangat jahat dan sebagai ancaman bagi pasokan minyak Teluk, yang hingga saat itu ia telah menjadi pelindung pasokan tersebut, maka Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya takkan membiarkan Saddam begitu saja, tapi akan membuat perhitungan yang akan menghancurkan angkatan bersenjata dan kekuatan persenjataanya, khususnya jika mereka sampai yakin bahwa ini hanyalah kesempatan terakhir mereka sebelum Saddam menggunakan senjata nuklir. (Victor Ostrovsky, The Other Side of Deception, hlm. 254)

Israel sangat bersikukuh dalam masalah ini, dan dalam kaitannya dengan Amerika Serikat, pada tanggal 4 Agustus 1990, Menteri Luar Negeri Israel, David Levy, mengeluarkan ancaman menggunakan bahasa diplomatis kepada William Brown, duta besar AS untuk Israel, dengan mengatakan bahwa Israel "menginginkan AS akan memenuhi semua tujuan-tujuan yang ditetapkan Israel untuk mereka sendiri di awal krisis teluk," dengan kata lain AS hendaknya menyerang Irak. Menurut Levy, jika AS tidak melakukannya, Israel akan melancarkannya sendiri. (Andrew and Leslie Cockburn, Dangerous Liaison, hlm. 356.)

Akan sangat menguntungkan bagi Israel jika AS terlibat perang tanpa keterlibatan apa pun di pihak Israel: dan inilah yang benar-benar terjadi.

Israel Memaksa AS Berperang

Akan tetapi, kalangan Israel terlibat secara aktif dalam perencanaan perang oleh AS. Sejumlah pejabat AS yang terlibat merancang Operation Desert Storm (Operasi Badai Gurun) menerima arahan taktis jitu dari kalangan Israel bahwa "cara terbaik melukai Saddam adalah dengan melancarkan serangan terhadap keluarganya."

Kampanye propaganda yang diilhami Mossad sebagaimana dilaporkan Ostrovsky membentuk dukungan publik yang diperlukan dalam Perang Teluk. Sekali lagi, para pembantu lokal Mossad-lah yang berperan menyulut api peperangan. Lembaga pelobi Hill and Knowlton, yang dikendalikan oleh Tom Lantos dari lobi Israel, mempersiapkan rancangan yang dramatis guna meyakinkan para anggota Konggres perihal perang melawan Saddam. Turan Yavuz, wartawan Turki terkenal, memaparkan kejadian tersebut:

9 Oktober 1990. Lembaga pelobi Hill and Knowlton mengadakan pertemuan di Konggress yang bertemakan "Kebiadaban Irak." Sejumlah "saksi mata" yang dihadirkan dalam acara itu oleh lembaga pelobi tersebut menyatakan bahwa tentara Irak membunuh bayi-bayi baru lahir di bangsal-bangsal rumah sakit. Seorang "saksi mata" memaparkan kekejaman itu dengan sangat rinci, dan mengatakan bahwa para prajurit Irak telah membunuh 300 bayi baru lahir di satu rumah sakit saja. Berita ini sungguh mengguncang para anggota Konggress tersebut. Ini menguntungkan bagi pihak Presiden Bush. Namun, belakangan diketahui bahwa saksi mata yang dihadirkan oleh lembaga pelobi Hill and Knowlton di hadapan Konggres ternyata adalah anak perempuan duta besar Kuwait untuk Washington. Kendatipun demikian, kisah yang dituturkan anak perempuan tersebut sudah cukup bagi para anggota Konggress untuk menjuluki Saddam sebagai "Hitler". (Turan Yavuz, ABD'nin Kürt Karti (The US' Kurdish Card), hlm. 307)

Hal ini mengarahkan pada satu kesimpulan saja: Israel berperan penting dalam kebijakan Amerika Serikat untuk melancarkan perang pertamanya terhadap Irak. Perang yang kedua tidaklah banyak berbeda.

Alih-Alih "Perang terhadap Terorisme"

Berlawanan dengan keyakinan masyarakat luas, rencana untuk menyerang Irak dan menggulingkan rezim Saddam Hussein dengan kekuatan senjata telah dipersiapkan dan dicanangkan dalam agenda Washington sejak lama sebelum dilancarkannya "perang mewalan terror," yang mengemuka pasca peristiwa 11 September. Isyarat pertama adanya rencana ini mengemuka pada tahun 1997. Sekelompok ahli strategi pro-Israel di Washington mulai memunculkan skenario penyerangan atas Irak dengan memanfaatkan lembaga think-tank "konservatif baru", yang dinamakan PNAC, Project for The New American Century (Proyek bagi Abad Amerika Baru).

Sebuah artikel berjudul "Invading Iraq Not a New Idea for Bush Clique: 4 Years Before 9/11 Plan Was Set" (Penyerangan atas Irak Bukan Gagasan Baru bagi Kelompok Bush) yang ditulis William Bruch dan diterbitkan di the Philadelphia Daily News, memaparkan fakta berikut:

Namun kenyataannya, Rumsfeld, Wakil Presiden Dick Cheney, dan sekelompok kecil ideolog konservatif telah memulai wacana penyerangan Amerika atas Irak sejak 1997 – hampir empat tahun sebelum serangan 11 September dan tiga tahun sebelum Presiden Bush memegang pemerintahan.

Sekelompok pembuat kebijakan sayap kanan yang terdengar mengkhawatirkan, yang tidak begitu dikenal, yang disebut Proyek bagi Abad Amerika Baru, atau PNAC – yang berhubungan erat dengan Cheney, Rumsfeld, deputi tertinggi Rumsfeld, Paul Wolfowitz, dan saudara lelaki Bush, Jeb – bahkan mendesak presiden waktu itu, Clinton, untuk menyerbu Irak di bulan Januari 1998. (William Bunch, Philadelphia Daily News, 27 Jan. 2003)

Minyakkah yang Menjadi Tujuan Sebenarnya?

Mengapa para anggota PNAC sangat bersikukuh untuk menggulingkan Saddam? Artikel yang sama melanjutkan:

Meskipun minyak melatarbelakangi pernyataan kebijakan PNAC terhadap Irak, namun tampaknya ini bukanlah pendorong utama. [Ian] Lustick, [seorang profesor ilmu politik Universitas Pennsylvania dan ahli Timur Tengah,] yang juga pengecam kebijakan Bush, mengatakan bahwa minyak dipandang oleh para pendukung perang terutama sebagai cara untuk membayar operasi militer yang sangat mahal.

"Saya dari Texas, dan setiap orang perminyakan yang saya kenal menentang tindakan militer terhadap Irak," kata Schmitt dari PNAC. "Pasar minyak tidak perlu diganggu."

Lustick yakin bahwa dalang tersembunyi yang sangat berpengaruh kuat kemungkinan adalah Israel. Ia mengatakan para pendukung perang dalam pemerintahan Bush yakin bahwa parade pasukan di Irak akan memaksa Palestina menerima rancangan perdamaian yang menguntungkan Israel"(William Bunch, "Invading Iraq not a new idea for Bush clique" Philadelphia Daily News, 27 Jan. 2003)

Jadi, inilah dorongan utama di balik rencana untuk menyerang Irak: membantu strategi Israel di Timur Tengah.

Fakta ini juga ditengarai oleh sejumlah ahli Timur Tengah lainnya. Misalnya Cengiz Çandar, ahli Timur Tengah asal Turki, memaparkan kekuatan sesungguhnya di balik rencana penyerangan atas Irak sebagaimana berikut:

"Siapakah yang mengarahkan serangan atas Irak? Wakil Presiden Dick Cheney, Menteri Pertahanan Rumsfeld, Penasehat Keamanan Dalam Negeri Condoleeza Rice. Mereka inilah para pendukung "tingkat tinggi" terhadap penyerbuan tersebut. Akan tetapi, selebihnya dari gunung es tersebut sungguh lebih besar dan lebih menarik. Terdapat sejumlah "lobi."

Yang terdepan di barisan lobi ini adalah tim Jewish Institute for Security Affairs (Lembaga Yahudi untuk Masalah Keamanan) JINSA, yang merupakan kelompok kanan Israel pro-Likud yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan industri-industri senjata AS" Mereka memiliki hubungan erat dengan "lobi persenjataan," Lockheed, Northrop, General Dynamics dan industri militer Israel" Prinsip mendasar JINSA adalah bahwa keamanan AS dan Israel adalah tak terpisahkan. Dengan kata lalin, keduanya adalah sama.

Tujuan JINSA tidak terbatas pada merobohkan rezim Saddam di Irak, tetapi juga mendukung penggulingan rezim Saudi Arabia, Syria, Mesir dan Iran dengan logika "perang total", yang diikuti dengan "penegakan" demokrasi. …Dengan kata lalin, sejumlah Yahudi Amerika yang seirama dengan kelompok-kelompok paling ekstrim di Israel sekarang terdiri atas orang-orang yang mendukung perang di Washington. (Cengiz Çandar, "Iraq and the 'Friends of Turkey' American Hawks", Yeni Safak, 3 September 2002.)

Projek Israel "Penguasaan Dunia secara Diam-Diam"

Singkatnya, terdapat kalangan di Washington yang mendorong terjadinya perang yang awalnya dilancarkan terhadap Irak, dan setelah itu terhadap Saudi Arabia, Syria, Iran dan Mesir. Ciri mereka paling kentara adalah mereka berbaris di samping, dan bahkan sama dengan, "lobi Israel."

Tak menjadi soal betapa sering mereka berbicara tentang "kepentingan Amerika," orang-orang ini sebenarnya mendukung kepentingan Israel. Strategi melancarkan peperangan terhadap seluruh Timur Tengah sehingga menjadikan seluruh rakyat di kawasan tersebut bangkit melawan AS tak mungkin akan menguntungkan pihak AS. Penggunaan strategi seperti ini hanya mungkin dapat dilakukan jika AS tunduk pada Israel, melalui lobi Israel, yang luar biasa berpengaruhnya terhadap kebijakan luar negeri negara tersebut.

Dengan alasan ini, maka di belakang strategi yang mulai dijalankan pasca 11 September dan yang ditujukan untuk merubah peta seluruh dunia Islam, terdapat rencana rahasia Israel untuk "menguasai dunia." Sejak pendiriannya, Israel telah bercita-cita merubah peta Timur Tengah, menjadikannya mudah diatur sehingga tidak lagi menjadi ancaman baginya. Israel telah menggunakan pengaruhnya di AS untuk tujuan ini di tahun-tahun belakangan, dan memiliki andil besar dalam mengarahkan kebijakan Washington di Timur Tengah. Keadaan pasca 11 September memberi Israel kesempatan yang selama ini telah dicari-carinya. Para ideolog pro-Israel yang selama bertahun-tahun secara tidak benar telah menyatakan bahwa Islam sendirilah yang – dan bukan sejumlah kelompok radikal militan yang berbaju Islam – memunculkan ancaman terhadap Barat dan AS. Merekalah yang berusaha meyakinkan kebenaran gagasan keliru tentang "benturan antar peradaban," dan telah berupaya mempengaruhi AS agar memusuhi dunia Islam setelah peristiwa 11 September. Sudah sejak tahun 1995, Israel Shahak dari Universitas Hebrew, Jerusalem, menuliskan keinginan Perdana Menteri Rabin sebagai "gagasan perang melawan Islam yang dipimpin Israel." Nahum Barnea, penulis opini dari surat kabar Israel, Yediot Ahronot, menyatakan di tahun yang sama bahwa Israel tengah mengalami kemajuan "[untuk] menjadi pemimpin Barat dalam perang melawan musuh, yakni Islam." (Israel Shahak, "Downturn in Rabin's Popularity Has Several Causes", Washington Report on Middle East Affairs, Maret 1995.)

Semua yang telah terjadi di tahun-tahun berikutnya adalah bahwa Israel menjadikan niatannya semakin kentara. Iklim politik pasca 11 September memberikan peluang untuk mewujudkan niatan ini menjadi kenyataan. Dunia kini tengah menyaksikan tahap demi tahap menerapan kebijakan Israel dalam memecah-belah Irak, yang telah dirancang di Konggres Zionis Dunia pada tahun 1982.

Satu-Satunya Jalan Menuju Perdamaian Dunia: Persatuan Islam

Keadaan di atas dapat dirangkum sebagai berikut: Tujuan Israel adalah untuk menata ulang kawasan Timur Tengah menurut kepentingan strategisnya sendiri. Untuk mencapai hal ini, untuk menguasai Timur Tengah, wilayah paling mudah bergejolak di dunia, Israel memerlukan sebuah "kekuatan dunia." Kekuatan ini adalah Amerika Serikat; dan Israel, dengan kekuatan pengaruhnya terhadap AS, tengah berupaya menggadaikan kebijakan luar negeri AS terhadap Timur Tengah. Meskipun Israel adalah sebuah negara kecil berpenduduk 4,5 juta jiwa, rencana yang disusun Israel dan para pendukungnya di Barat mengendalikan keseluruhan dunia.

Apa yang perlu dilakukan menghadapi kenyataan ini?

1) Kegiatan melobi perlu dilakukan dalam rangka menandingi pengaruh lobi Israel di Amerika Serikat guna membangun dialog antara AS dan dunia Islam, dan untuk mengajaknya mencari cara damai dalam memecahkan permasalahan Irak dan permasalahan serupa lainnya. Banyak kalangan AS menginginkan negeri mereka mengambil kebijakan Timur Tengah yang lebih adil. Banyak negarawan, ahli strategi, wartawan dan cendekiawan telah mengungkapkan hal ini, dan gerakan "perdamaian antar peradaban" harus digulirkan dengan bekerjasama dengan kalangan tersebut.

2) Pendekatan yang mengajak pemerintah AS kepada pemecahan masalah secara damai haruslah dibawa ke tingkat pemerintahan dan masyarakat sipil.

Bersamaan dengan ini semua, jalan keluar paling mendasar terletak pada sebuah proyek yang dapat menyelesaikan seluruh permasalahan antara dunia Islam dan Barat, dan dapat mengatasi perpecahan, penderitaan dan kemiskinan di dunia Islam dan sama sekali merubahnya, dan ini adalah Persatuan Islam.

Perkembangan terakhir telah menunjukkan bahwa seluruh dunia, tidak hanya wilayah-wilayah Islam, memerlukan sebuah "Persatuan Islam." Persatuan ini haruslah mampu meredam unsur-unsur radikal di Dunia Islam, dan membangun hubungan baik antar negara-negara Islam dan Barat, khususnya Amerika Serikat. Persatuan ini juga hendaknya membantu menemukan jalan keluar bagi induk dari seluruh permasalahan yang ada: perseteruan Arab-Israel. Hanya dengan penarikan diri Israel hingga batas wilayahnya sebelum tahun 1967, dan pengakuan bangsa Arab atas keberadaannya, akan ada perdamaian sesungguhnya di Timur Tengah. Dan umat Yahudi dan Muslim – yang keduanya keturunan Nabi Ibrahim dan beriman pada satu Tuhan saja – dapat hidup berdampingan di Tanah Suci, sebagaimana yang telah mereka tunjukkan di abad-abad yang lalu. Dengan demikian, Israel takkan lagi memerlukan strategi untuk mengganggu keamanan atau memecah-belah negara-negara Arab. Dan Israel takkan menghadapi balasan atas pendudukannya dalam bentuk kekerasan dan ketakutan terus-menerus terhadap upaya penghancuran terhadapnya. Lalu, keduanya, anak-anak Israel dan Irak (juga Palestina) dapat tumbuh dalam lingkungan yang damai dan aman. Inilah wilayah Timur Tengah yang seharusnya didambakan dan berusaha diwujudkan oleh setiap orang yang bijak.

Yahudi Menyeludup Dalam Tafsir Quran, Syiah Menyelinap Dalam Sirah


Tulisan Shaikh Soleh bin Abdullah al-Muhaisin,
Dekan Fakulti Dakwah dan Usuluddin, Universiti Islam Madinah.


Sesungguhnya segala pujian untuk Allah. Kami memuji-Nya, meminta pertolongan daripada-Nya, meminta keampunan-Nya, meminta petunjuk-Nya dan kami meminta perlindungan dengan Allah daripada kejahatan diri kami dan amalan-amalan kami yang buruk.

Sesiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dia terpimpin dan sesiapa yang disesatkan Allah maka tiada yang dapat memimpinnya. Saya bersaksi bahawa tiada tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahawa Nabi Muhammad adalah hamba dan pesuruh Allah. Semoga Allah menselawati Baginda, kaum keluarga dan para sahabat Baginda.

Sesungguhnya sejarah mana-mana umat merupakan gambaran yang jelas bagi kehidupan, tradisi, kepercayaan, ilmu dan kebudayaan mereka. Lembaran-lembaran sejarah mereka itulah yang mengungkapkan cita-cita dan matlamat mereka. Sesungguhnya sejarah Islam adalah manifestasi yang paling jelas tentang apa yang kita nyatakan tadi.

Sejarah Islam tidak dapat ditandingi oleh mana-mana bangsa sama ada dari sudut kuantiti ataupun kualiti. Dari sudut kuantiti, sejarah Islam lebih luas setakat yang diketahui oleh umat manusia sehingga ke hari ini. Ini kerana ia memiliki sejarah khalifah-khalifah, gabenor-gabenor, para ilmuwan, kadi-kadi dan panglima-panglima.

Semua itu dicatit dengan jelas dan amat teliti di samping merakamkan penaklukan-penaklukan yang besar yang telah dilakukan oleh orang-orang Islam di timur dan barat yang sentiasa maju dan terkehadapan dari semasa ke semasa. Selain itu, sejarah Islam meliputi ilmu-ilmu, sirah kehidupan yang terpuji, sumbangan-sumbangan mereka yang berjasa dari kalangan umat ini.

Dari sudut kualiti, sejarah Islam berasaskan kepada periwayatan dan nukilan orang-orang yang adil, thiqah lagi dipercayai cerita-cerita mereka sehingga tidak ada ruang untuk rekaan dan pendustaan dan faktor ini tidak ada dalam sejarah mana-mana umat lain. Sejarah Islam telah memberikan perhatian yang khusus terhadap periwayatan, dokumentasi dan hafalan. Para ulama telah menekuni riwayat sejarah dan menganalisa dan mengkritiknya. Mereka saling berlumba-lumba dalam hal ini dan menjadikan perpustakaan Islam sarat dengan kitab-kitab sejarah bagi setiap zaman dan generasi umat ini.

Dalam pada itu, musuh-musuh Islam melupakan kekuatan dan kekuasaan Islam serta tersebarnya Islam dengan pantas menyebabkan mereka terkejut dan hairan.

Oleh kerana mereka tidak mempunyai kekuatan untuk melawan Islam dengan pedang secara terbuka, mereka memeilih beberapa cara dan kaedah untuk menghapuskan dan menghancurkan Islam. Bid`ah Syi`ah adalah merupakan bid`ah pertama yang dibangunkan untuk matlamat ini dan tipu daya pertama yang diaturkan di sebalik tabir ini. Inilah fitnah terbesar yang dirancang untuk menentang Uthman bin `Affan iaitu khalifah ketiga dan salah seorang sepuluh sahabat yang dijamin syurga.

Fitnah ini bermula dengan rekaan dan penyebaran berita-berita palsu atau diriwayatkan bukan dengan caranya yang sahih supaya dapat menarik dan mengumpulkan orang-orang yang jahil dan bodoh. Akibatnya berkesudahan dengan kesyahidan Uthman sebagaimana yang disebutkan dengan terperinci di dalam kitab-kitab hadis dan sejarah.

Penjahat yang merancang dan melaksanakan fitnah ini ialah Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi. Kemudian setelah Uthman syahid, golongan Rafidhah mendapat peluang yang sesuai untuk menimbulkan kekacauan yang berlaku kemudiannya. Perkara ini dibuat untuk mencipta dan menyebarkan riwayat-riwayat palsu tentang keburukan sahabat dan perselisihan yang berlaku di kalangan mereka lalu menggambarkan mereka dengan cara yang tidak benar.

Penulis di sini tidak bertujuan untuk mengkritik kekarutan dan kepalsuan yang ditaburkan oleh Syi`ah di dalam kitab-kitab sejarah Islam kerana itu adalah natijah kebencian dan kejahatan terhadap sahabat yang tersembunyi di dalam hati mereka. Begitu juga serangan terhadap pemimpin-pemimpin Islam. Apatah lagi kitab-kitab Syi`ah bersepah dengan makian dan celaan terhadap sahabat. Hakikat ini sememang terang-terang batil. Tidak halal kepada sesiapapun untuk membaca kitab-kitab ini kecuali dengan maksud untuk melihat kebatilan itu dan menyanggahnya seterusnya memberi peringatan kepada orang lain.

Penulis di sini bertujuan untuk mengkaji penularan kejahatan Syi`ah ke dalam kitab-kitab sejarah Islam sama melalui perawi yang bermuka-muka dengan menzahirkan ketakwaan dan keadilan tetapi menyembunyikan fahaman Rafidhah atau dengan cara berfahaman Syi`ah yang sederhana yang periwayatannya itu diterima oleh kebanyakan ahli ilmu jika dia tidak taksub dan menyeru kepada bid`ahnya.

Kadang-kadang ahli sejarah seperti Ibn Jarir meriwayatkan daripada perawi-perawi yang terkenal dengan tasyayyu` tetapi beliau menyebutkan sanadnya supaya kedudukan perawi-perawi itu diberi perhatian.

Ini tidaklah menyebabkan Ibn Jarir tercela selagi beliau tetap menukilkan berita-berita tersebut dengan sanad-sanadnya dan menyerahkan kepada para pembaca yang tajam pemikiran menilai dan menyaringnya. Di muqaddimah tarikhnya itu,[1] Ibn Jarir menulis:

“Hendaklah pembaca kitab kami ini mengetahui sesungguhnya pegangan saya bahawa setiap perkara yang saya sebutkan dalam kitab ini adalah mengikut syarat yang saya beriltizam dengannya iaitu meriwayatkan berita-berita sebagaimana ia telah diriwayatkan dan saya hanya menyebutkannya sahaja.

Apa yang terkandung dalam kitab ini tentang sebahagian kisah orang yang terdahulu. Antara berita tersebut ada yang menyebabkan pembacanya merasa benci atau pendengar merasa jelik. Ini kerana dia tidak dapat menerimanya sebagai sesuatu yang benar atau sesuatu hakikat. Oleh itu, hendaklah dia mengetahui bahawa berita-berita tersebut bukan datang daripada kami, tetapi ia datang daripada orang yang menyampaikannya kepada kami. Dan kami hanya menyampaikan seperti yang dibawakan kepada kami.”

Malangnya penulis yang datang selepas Ibn Jarir al-Tabari membuang sanad-sanad ini lalu menghimpunkan kesemua riwayat demi untuk meringkaskan. Kemudian orang-orang kemudian terutamanya penulis zaman ini menukilkan riwayat-riwayat ini dan menyandarkan kepada kitab-kitab sejarah tanpa membezakan anatara yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang thiqah dan perawi-perawi yang berfahaman Syi`ah, antara berita-berita yang jelas sahih kerana nukilan perawi-perawi thiqah yang saling menyokong dan menguatkan dan berita-berita yang jelas kebatilannya seperti keburukan sahabat dan fitnah yang berlaku di kalangan mereka yang disepakati oleh ulama hadis tentang kebatilannya.

Keadaan semakin parah sejak akhir-akhir ini kerana kemunculan Saba’iyyah baru dengan rupa lain dan golongan orientalis Yahudi dan Kristian. Mereka ini menemui riwayat-riwayat Syi`ah yang bertaburan di dalam sejarah sebagai bahan-bahan yang segar untuk memburukkan sejarah Islam yang gemilang.

Mereka mengabui mata orang ramai dengan mendakwa sebagai pengkaji yang teliti berasaskan metode ilmiah. Sedangkan sebenarnya mereka adalah pembohong. Penyelidikan mereka tidak lebih daripada mengambil beberapa riwayat Syi`ah lalu diolah dalam bentuk yang buruk dengan melakukan tambahan dan pengurangan di sana sini mengikut matlamat mereka yang keji. Akhirnya mereka akan berkata: “Sila rujuk Tarikh al-Tabari atau Tarikh Ibn al-Athir.”

Dalam pada itu ramai dari kalangan sejarawan dan professor sejarah hari ini yang terpedaya dengan pembohongan dan pendustaan mereka. Sebenarnya adalah satu pengkhianatan terhadap agama ini jika sejarah sendiri diambil daripada musuh-musuh Islam iaitu Yahudi dan Nasrani yang lebih dikenali sebagai orientalis.

Dalam hal ini, penulis tidak lupa untuk menyebutkan usaha gigih yang dicurahkan oleh ulama bagi membendung riwayat-riwayat batil itu sama ada dengan penulisan sejarah yang berasaskan kepada riwayat yang diakui thiqah di samping mengakui dan menginsafi kemuliaan dan ketinggian kedudukan para sahabat, atau juga penulisan yang khusus dengan riwayat-riwayat tersebut atau kajian yang terselit dalam penulisan yang membincangkan topik tertentu.

Ini boleh didapati dengan banyak, sama ada sudah diterbitkan atau masih lagi dalam bentuk manuskrip, dan, inilah yang paling banyak. Antara kitab yang ditulis dengan cara pertama dan telah diterbitkan ialah al-Bidayah wa al-Nihayah tulisan Ibn Kathir, seorang tokoh yang tampil menentang Syi`ah dengan kajian-kajian beliau yang ilmiah dan terperinci . Beliau amat kritis dalam kritikannya. Di samping itu, beliau menonjolkan keutamaan dan kelebihan para sahabat walaupun tidak disetujui oleh Syi`ah.

Contoh penulisan dalam bentuk kedua ialah kitab al-`Awasim min al-Qawasim karangan Abu Bakar Ibn al-`Arabi dan contoh bagi bentuk ketiga seperti perbahasan-perbahasan yang berselerakan di dalam kitab-kitab karangan Ibn Taymiyyah, Ibn al-Qayyim, al-Zahabi, Ibn Hajar dan lain-lain. Usaha-usaha tersebut walaupun mempunyai beberapa pendekatan namun tetap penting dan saling melengkapi. Itulah yang telah dilaksanakan oleh ulama salaf dan khalaf dengan baiknya.

Apa yang tinggal sekarang ialah tugas para ilmuwan dan mereka yang peka kepada Islam di zaman ini. Tanggungjawab mereka ialah meneruskan usaha ke arah perbersihan dan pemurnian timbunan-timbunan riwayat tersebut. Alim ulama kita telah menjelaskan tentang pembohongan dan pendustaan riwayat-riwayat Syi`ah dan tidak ada cara lain selain dari menghapuskan kesemuanya itu dari lembaran sejarah.

Sesungguhnya jika orientalis, Yahudi atau Kristian atau anak didik mereka merasa senang dan selesa untuk terus menggunakan riwayat-riwayat batil yang menggelapkan lembaran sejarah Islam maka tidak harus sama sekali bagi orang Islam merestui kotoran yang terpalit pada sejarah umat dan agamanya.

Adalah menjadi kewajipan institusi yang tertentu di dalam dunia Islam untuk mewujudkan kuarantin-kuarantin ilmiah yang halus untuk menyingkirkan riwayat-riwayat yang ditimpa wabak Syi`ah itu dan mengemukakan kepada sejarah Islam kita dengan rupa yang bercahaya dan bersinar setelah membersihkan dan menghapuskannya dari virus-virus Syi`ah yang kotor.

Begitu juga wajib kepada institusi tersebut untuk mengadakan sekatan syara` terhadap setiap orang yang bodoh yang lantang bersuara terhadap para sahabat. Ini juga merupakan usaha membantu agama Allah dan rasul-Nya dan melaksanakan kewajipan terhadap para sahabat sebagai generasi Islam yang terbaik, di dunia dan akhirat.

Serangan Ganas Yang Dilancarkan Syi`ah Ke Atas Sejarah Islam Berkisar Dua Perkara:

Perkara Pertama:

Mencaci, memalsukan dan mereka-reka cerita yang memburukkan sahabat Rasululullah s.a.w. Tujuan mereka ialah menyerang Islam sendiri kerana sahabat itulah yang meriwayatkan Islam dan merekalah umat yang terbaik selepas Rasulullah s.a.w. bahkan merekalah anak Adam yang paling utama selepas para nabi.

Setelah mencacatkan kelebihan dan keutamaan para sahabat serta menjatuhkan para sahabat bererti menjatuhkan Islam sendiri, Ibn Taymiyyah menulis: “Inilah prinsip asas Syi`ah Rafidhah kerana orang yang mencipta fahaman Rafidhah itu seorang Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam tetapi sebenarnya seorang munafik. Dia telah menaburkan kepada orang-orang jahil racun-racun yang mengancam asas Islam. Oleh kerana itu, Rafidhah merupakan pintu kemunafikan dan zindik yang paling besar.”

Beliau menulis lagi: “Serangan terhadap kurun yang terbaik yang mendampingi Rasulullah s.a.w. bererti serangan terhadap Baginda sendiri sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam Malik dan para ulama yang lain.”

Kekarutan Syi`ah Rafidhah lebih tertumpu kepada sahabat yang paling utama iaitu Abu Bakar, Umar dan Uthman , dan kemudiannya dengan berani mereka menyerang sahabat lain yang terdiri dari kalangan mereka yang awal memeluk Islam dan sahabat-sahabat yang menyertai peperangan Badar, Uhud, Bai`ah Ridwan malah mereka yang membela Rasulullah s.a.w. semasa senang dan susah.

Rasulullah s.a.w. wafat dalam keadaan baginda reda terhadap sahabatnya seperti Talhah, al-Zubair dan sahabat-sahabat yang dijamin syurga. Bukan setakat itu sahaja, mereka berani mencerca isteri-isteri Rasulullah s.a.w. terutama `Aishah dan Hafshah dan akhirnya mereka mengecam keseluruhan Bani Umayyah dengan kutukan dan makian.

Perkara Kedua

Melampau dalam menyanjung Ahli Bait dan mereka mengkhususkan Ali, Fatimah dan keturunan mereka berdua. Lalu mereka mencipta dan meletakkan riwayat batil yang memuji Ahli Bait dan mendewa-dewa mereka sehingga ke tahap menyifatkan mereka dengan perkara yang tidak layak dengan mereka serta mengaitkan beberapa pendirian dan amalan yang tidak sesuai dengan keutamaan dan ketinggian kedudukan mereka.

Beberapa Contoh Pendustaan Yang Dibawa Masuk Oleh Syi`Ah

Di sini, penulis akan menyebutkan beberapa riwayat yang disebarkan Syi`ah dalam sejarah dan penulis akan menyebutkan kebatilannya serta mengemukakan riwayat yang sahih yang menyanggahinya.

Syi`ah mendakwa Ali tidak membai`ah Uthman dan sebahagian mereka pula mendakwa Ali membai`ah tetapi secara terpaksa. Bagi menyokong dakwaan itu, mereka mencipta sebilangan berita yang palsu dan dusta. Sebelum pergi kepada riwayat palsu mereka itu dan sebelum menyebut kesimpulan peristiwa bai`ah serta syura dengan sanad yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang adil dan thiqah, penulis ingin mengemukakan beberapa perkara:

Tatkala Umar ditikam, beliau telah menjadikan khilafah selepas beliau sebagai syura yang terdiri daripada sahabat-sahabat yang diredai oleh Rasulullah s.a.w iaitu Ali bin Abu Talib, Uthman bin Affan, al-Zubair bin al-`Awwam, Talhah bin Ubaidillah, Sa`ad bin Abi Waqqas dan Abdul Rahman bin `Auf. Beliau menyerahkan urusan khilafah kepada enam sahabat ini untuk melantik salah seorang mereka sebagai khalifah.

Urusan tersebut dapat disempurnakan dengan pemilihan Uthman lalu beliau dibai`ah oleh ahli Syura yang lain termasuklah Ali serta kesemua Muhajirin dan Ansar tanpa bantahan dan teragak-agak. Peristiwa ini adalah sahih melalui beberapa sanad yang masyhur di dalam kitab-kitab sejarah yang muktabar dan diriwayatkan di dalam Sahih al-Bukhari dan Muslim dan lain-lain. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, di dalam sahihnya[2] daripada Amar bin Maimun dan menyebutkan cerita tersebut dengan panjang lebarnya antaranya ialah: Para sahabat berkata: Wahai Amirul mukminin, wasiatkanlah siapakah yang akan menggantikan. Umar menjawab: Saya tidak dapati orang yang lebih layak dengan urusan ini selain daripada mereka yang Rasulullah s.a.w. wafat dalam keadaan baginda reda terhadap mereka.” Lalu Umar menamakan Ali, Uthman, al-Zubair, Talhah, Sa`ad dan Abdul Rahman. Umar berkata: Biarlah Abdullah bin Umar menjadi saksi, tetapi dia tidak mempunyai apa-apa hak dalam jawatan ini (seolah-olah ucapan takziah kepada anaknya).

Kemudian Imam al-Bukhari mengemukakan wasiat Umar kepada rakyatnya dan kisah pengkebumiannya. Al-Bukhari menyebutkan lagi: Apabila selesai pengkebumian, enam orang sahabat tersebut berkumpul. Abdul Rahman berkata: “Serahkan urusan kamu ini kepada tiga orang sahaja.” Al-Zubair berkata: “Saya telah menyerahkan hak saya kepada Ali.” Talhah berkata: “Saya telah menyerahkan hak saya kepada Uthman.” Sa`ad berkata: “Saya telah menyerahkan hak saya kepada Abdul Rahman bin Auf.” Abdul Rahman berkata: “Siapa antara kamu berdua yang menarik diri, saya akan menyerahkan jawatan ini kepadanya. Allah dan umat Islam menyaksikan kita. Demi Allah, Dia akan memerhatikan yang terbaik di antara mereka.” Kata-katanya itu menyebabkan Ali dan Uthman terdiam. Abdul Rahman berkata: “Apakah kamu mahu menyerahkan urusan ini kepadaku? Allah menjadi saksi ke atasku bahawa aku tidak akan cuai dalam memilih yang terbaik di antara kamu.” Ali dan Uthman berkata: “Baiklah kalau begitu.” Abdul Rahman memegang tangan Ali sambil berkata: “Engkau mempunyai hubungan kerabat dengan Rasulullah s.a.w. dan telah lama memeluk Islam sebagimana kamu maklum. Allah menjadi saksi kepadamu, sekiranya aku melantikmu, engkau pasti akan berlaku adil. Kalau aku lantik Uthman, pasti engkau mendengar dan mematuhinya.” Kemudian Abdul Rahman membawa yang seorang lagi (Uthman) ke tempat sunyi lalu berkata seperti yang dikatakan kepada yang tadi (Ali). Apabila dia telah berjanji begitu, diapun berkata: “Angkat tanganmu wahai Uthman.” Lalu Abdul Rahman membai`ahkan Uthman dan Ali turut juga membai`ahkannya. Setelah itu, orang-orang yang berada di kawasan itu masuk dan memberikan bai`ah kepada Uthman.

Inilah yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari tentang bai`ah Uthman yang dilakukan oleh Ali bersama-sama orang-orang Islam yang lain. Inilah berita yang sahih dalam kitab-kitab hadis yang muktabar dan disebutkan juga oleh kebanyakan ahli sejarah yang dipercayai.

Namun begitu, Rafidhah menyebarkan beberapa kepalsuan bahawa Ali menangguh-nangguhkan atau dia telah mengeluarkan kata-kata kesat terhadap Abdul Rahman bin `Auf. Riwayat ini telah disebutkan di dalam kitab-kitab sejarah antaranya ialah riwayat al-Tabari[3] dengan sanadnya daripada Umar bin Maimun al-Audi dan beliau menyebutkan apa yang berlaku tentang syura dan bai`ah. Antara yang disebutkan dalam riwayat itu ialah: “Ali berkata kepada Abdul Rahman: Kamu akan merangkak buat selama-lamanya. Ini bukanlah kali pertama kamu semua berpakat untuk menentangku…”

Sanad yang disebutkan oleh al-Tabari terdapat beberapa `illah (penyakit) dan tidak boleh dijadikan hujah di sisi ulama hadis. Antara perawi sanad ini ialah Abu Mihknaf. Namanya ialah Lut bin Yahya, seorang Syi`ah. Di dalam Mizan al-I`tidal, al-Zahabi menulis[4]:

“Dia seorang tukang cerita yang lemah dan tidak boleh dipercayai.”

Ibn `Adi mengatakan: “Dia merupakan Syi`ah yang hangus (tulen atau pekat), pembawa cerita-cerita mereka (golongan Syi`ah).”

Kemudian al-Tabari meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada al-Miswar bin Makhramah dan menyebutkan tentang syura dan bai`ah Uthman, katanya: Orang ramai mula membai`ah Uthman dan Ali bertangguh. Lalu Abdul Rahman membacakan ayat: “Sesiapa yang melanggar janjinya pasti akibat melanggar janji itu menimpa dirinya.” (al-Fath: 10). Ini membuatkan Ali mula membelah barisan orang ramai sehingga beliau dapat memberi bai`ah seraya berkata: “Tipu daya, memang tipu daya.”

Dalam sanad riwayat al-Tabari ini terdapat Abdul Aziz bin Abi Thabit. al-Zahabi menulis berhubung dengannya, al-Bukhari berkata: “Hadisnya tidak boleh ditulis.” Al-Nasa’i dan lain-lain berkata: “Dia adalah matruk (ditinggalkan). Uthman bin Sa`id berkata: Saya bertanya kepada Yahya: “Bagaimana dengan keadaan Abi Thabit Abdul Aziz bin `Imran? Jawab Yahya: “Dia tidak thiqah. Dia hanya memiliki syair walaupun berketurunan Abdul Rahman bin Auf.”

Hafiz Ibn Hajar menyebutkan di dalam Tahzib al-Tahzib[5]: “al-Husani bin Hibban menukilkan daripada Yahya: “Saya melihatnya (Abdul Aziz) di Baghdad. Dia sering memaki orang ramai dan menuduh-nuduh keturunan mereka. Hadisnya tidak mempunyai apa-apa nilai.”

Pada pendapat penulis, Ibn Jarir al-Tabari menukilkan riwayat daripada Abdul Aziz setelah menyebutkan riwayat yang lalu. Mala petaka yang lain ialah beliau menafsirkan kata-kata Ali dalam riwayat yang lalu yang menyebutkan: “tipu daya, tipu daya” sebagai penipuan dari pihak Amar bin al-Ash dan menyebutkan bentuk penipuan yang kita tidak sanggup untuk menyebutkannya kerana kejelikannya.

Riwayat-riwayat ini dan yang seumpamanya kebanyakannya ialah penyebaran jahat Syi`ah Rafidhah terhadap sejarah. Penulis ingin mengingatkan bahawa kebanyakan penulis sejarah pada zaman ini terpedaya lalu menyebutkannya tanpa sebarang kajian dan kepastian. Semoga Allah membalas usaha baik Ibn Kathir. Beliau telah menyebutkan peristiwa Syura dan bai`ah Uthman di dalam kitabnya, al-Bidayah wa al-Nihayah dengan panjang lebar dan beliau tidak mempedulikan riwayat-riwayat yang karut itu. Bahkan setelah mengemukakan riwayat-riwayat yang sahih beliau mengulas: “Berita yang dinukilkan oleh kebanyakan ahli sejarah seperti Ibn Jarir al-Tabari dan penulis lain daripada perawi-perawi yang tidak dikenali bahawa Ali berkata kepada Abdul Rahman: “Kamu telah memperdayakanku. Sesungguhnya kamu melantiknya kerana dia adalah mertua kamu dan dia bermesyuarat dengan kamu setiap hari tentang urusannya. Dan Ali terlewat memberi bai`ah sehingga Abdul Rahman membacakan sepotong ayat al-Qur’an kepadanya: “Sesiapa yang melanggar janjinya pasti akibat melanggar janji itu menimpa dirinya.” (al-Fath: 10). Dan riwayat-riwayat lain yang menyanggahi riwayat-riwayat yang sabit di dalam kitab-kitab sahih. Kesemuanya itu adalah tertolak.

Wa Allah A`lam.

Malangnya ramai di kalangan ahli-ahli sejarah yang menukilkan riwayat-riwayat palsu itu tanpa sebarang saringan dan tapisan seperti Ibn Kathir.

Riwayat-Riwayat Syi`Ah Rafidhah Tentang Peperangan Jamal.

Apabila kita cuba melihat peperangan Jamal, kita dapati Syi`ah Rafidhah telah menutup sepenuhnya hakikat suasana peperangan tersebut kerana dilindungi oleh tutupan yang dibuat oleh mereka. Oleh itu apabila anda memeriksa halaman kitab-kitab sejarah anda hanya mendapati makian, cemuhan, celaan dan fitrah yang suci akan merasa kesal untuk mendengarnya. Namun di sini, penulis akan menyebutkan fakta-fakta yang disebutkan oleh sejarah melalui riwayat-riwayat yang sahih walaupun tidak disukai oleh Syi`ah dan penulis-penulis sejarah yang terpengaruh dengan barat.

Hakikat Pertama

Riwayat-riwayat yang sahih menyebutkan bahawa tujuan sebenar Talhah, al-Zubair dan orang-orang yang bersama mereka keluar ialah untuk membaiki keadaan dan menghapuskan orang-orang yang melakukan kerosakan dengan membunuh Uthman. Mereka tidak keluar untuk kepentingan kuasa atau mana-mana tujuan duniawi bahkan mereka sekali-kali tidak bermaksud untuk memerangi Ali dan orang-orang Islam bersamanya. Hakikat ini telah dikemukakan oleh Ibn Kathir. Beliau menulis: “Sesungguhnya Ali telah mengutuskan al-Qa`qa` sebagi utusan untuk menemui Talhah dan al-Zubair mengajak mereka kepada kesatuan dan jamaah dan menyatakan kepada mereka berdua betapa besarnya perpecahan dan perselisihan. Lalu al-Qa`qa` menuju ke Basrah dan orang yang pertama ditemuinya ialah `Aishah. Beliau berkata: “Wahai Ummu Mukminin, apakah yang mendorong ibu menjejakkan kaki di bumi ini?”. `Aishah menjawab: “Wahai anakku, untuk mendamaikan antara manusia.” Kemudian al-Qa`qa` meminta supaya `Aishah menjemput Talhah dan al-Zubair datang menemui `Aishah lalu mereka berdua tiba. Al-Qa`qa` berkata: “Saya telah bertanya kepada Ummu Mukminin sebab mengapa beliau menjejakkan kaki ke sini dan beliau menjawab untuk mendamaikan antara manusia.” Lalu mereka berdua menyatakan: “Kamipun dengan tujuan yang sama.”

Jelas dari riwayat di atas Aishah, Talhah dan al-Zubair mengatakan bahawa mereka datang hanya untuk mendamaikan antara manusia. Sesungguhnya mereka telah bercakap benar dan Syi`ah telah berdusta. Ini dibuktikan dengan mereka telah berdamai dan Ibn Kathir telah menyebutkan daripada Ali ketika beliau ditanya oleh Abu Salam al-Dala’i: “Adakah mereka itu (Mu`awiyah dan orang-orang bersamanya) mempunyai hujah berkenaan tuntutan mereka terhadap darah ini (darah Uthman) jika mereka benar-benar ikhlas kerana Allah dalam perkara ini? Ali menjawab: “Ya.” Abu Salam bertanya lagi: “Adakah tuan mempunyai hujah mengapa tuan menangguhkannya?” Ali menjawab: “Ya.” Apa yang dikatakan oleh Ali ini merupakan pegangan Ahli Sunnah berkenaan peristiwa yang berlaku sesama sahabat. Ahli sunnah beriktiqad bahawa masing-masing mereka itu mujtahid, jika benar mereka mendapat dua pahala tetapi jika tersilap mereka mendapat satu sahaja.

Hakikat Kedua

Para sahabat telah bersetuju untuk tidak meneruskan perselisihan tersebut dan tidak terlintas kepada mereka kecuali segala-galanya telah berakhir dan tidak ada sebarang peperangan. Namun golongan Saba’iyyah yang melakukan pembunuhan khalifah Uthman tidak berpuas hati lalu mereka mengatur satu pakatan untuk mencetuskan peperangan maka berlakulah peperangan Jamal.

Ini telah dinyatakan oleh Ibn Kathir dan lain-lain bahawa al-Qa`qa` tatkala dihantar oleh Ali untuk menemui Talhah, al-Zubair dan `Aishah dan menawarkan kepada mereka perdamaian. Mereka menjawab: “Anda memang benar dan melakukan yang terbaik. Oleh itu, pulanglah, jika Ali datang dan dia berpandangan seperti anda, keadaan akan menjadi baik.” Lalu al-Qa`qa` pulang menemui Ali dan mencerita apa yang berlaku dan itu benar-benar mengkagumkan Ali. Kemudian Ali menemui orang-orangnya supaya mereka sama-sama berdamai. Lalu mereka yang benci, tetap membenci dan orang yang reda, tetap reda. `Aishah kemudiannya menulis surat kepada kepada Ali menyatakan beliau datang untuk tujuan perdamaian, lalu pihak masing-masing gembira. Kemudian Ali menulis kepada Talhah dan al-Zubair: “Jika pendirian kamu berdua masih seperti ketika al-Qa`qa` meninggalkan kamu berdua, maka tunggulah sehingga kami datang dan membincangkan perkara ini. Lalu mereka berdua menjawab: “Sesungguhnya kami masih lagi berpendirian seperti ketika al-Qa`qa` meninggalkan kami iaitu untuk berdamai.” Hati dan jiwa kedua-dua belah pihak menjadi tenang dan reda lalu mereka berkumpul. Pada waktu petang Ali menghantar Abdullah bin Abbas sebagai wakil dan pihak Talhah menghantar Tulaihah al-Sajjad. Pada malam itu, mereka melalui malam yang paling baik dan indah tetapi pembunuh-pembunuh Uthman melalui malam yang paling buruk bagi mereka dan mereka merancang dan berpakat untuk mencetuskan peperangan pada waktu malam yang akhir. Lalu mereka keluar sebelum fajar menyinsing.

Bilangan mereka itu hampir 2,000 orang. Masing-masing menuju kepada yang berdekatan mereka dan melancarkan serangan dengan pedang-pedang. Maka setiap kumpulan bangkit menuju ke pasukan masing-masing untuk menghalang mereka. Orang ramai terjaga dari tidur dan mendapatkan senjata. Mereka berteriak: Ahli Kufah telah mendatangi dan menyerang kami pada waktu malam. Mereka telah menipu kita.

Mereka menyangka ini adalah perbuatan orang-orang Ali. Lalu hal ini sampai kepengetahuan Ali dan beliau bertanya: Apa yang telah terjadi kepada orang ramai? Mereka menjawab: Ahli Basrah telah menyerang kami pada waktu malam. Lalu semua kumpulan mendapatkan senjata, memakai baju besi dan menaiki kuda. Tidak siapapun di kalangan mereka yang menyedari perkara sebenar yang terjadi. Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.

[1] Tarikh al-Tabari, jil. 1, hal. 8

[2] Sahih al-Bukhari, hal. 707 no: 3700

[3] Tarikh al-Tabari, jil 2 hal. 632

[4] Mizan al-I`tidal, jil. 6, hal. 632

[5] Taqrib al-Tahzib, jil. 6 hal. 150

Sumber : http://al-qayyim.net/

Ringkasan Tembual Dengan Bekas Naib Presiden Iran.

Mohammad Ali berkhidmat sebagai Timbalan kepada Presiden Mohammad Khatami bagi urusan perundangan parlimen dari 2001 hingga 2004. Dalam wawancara ini, beliau berbicara mengenai tawaran pihak reformis kepada Amerika Syarikat selama tempoh berkenaan dan tindakbalas Amerika, khususnya strategi dan kesilapan politik Presiden Bush dalam melabelkan Iran sebagai sebahagian dari “Axis of Evil" Beliau sangat tidak menaruh harapan tentang masa depan hubungan AS-Iran, ia menyatakan bahawa ketika ini suasana yang tegang "mendorong dan memanfaatkan terhadap pemimpin-pemimpin" dari kedua-dua negara. Ini adalah sebuah transkrip wawancara yang telah disunting dilakukan pada 29 Julai 2007.

Ketika itu, saya bermesuarat dengan Mr. Hamdan bin Zayed, menteri luar UAE. Kami ada mesyuarat sangat rahsia mengenai negara kami, terutamanya berkaiatan isu kepulaun Iran di teluk Parsi yang mana turut dituntut oleh UAE. Kami bermesyuarat tentang isu peluasan peta. Tiba-tiba salah seorang pembantunya masuk dan menjadi satu kejutan besar kepadanya, berita tentang apa yang berlaku di Amerika.

Selepas itu kami membuka TV, menara pertama telah diserang oleh kapal terbang, diikuti yang kedua turut runtuh. Perkara pertama kami fikirkan, tiada muslim yang terlibat dalam tindakan ini.

Saya fikir dalam dua jam pertama semua orang di negara itu mengalami kejutan, tidak mengetahui apakah yang berlaku sebenarnya. Saya maksudkan, Amerika ialah musuh kami, tetapi membuat satu keputusan mengenai beberapa situasi adalah sangat sukar, secara tepatnya kerana sebuah negara telah diserang, (dan) ianya tidak jelas mengapa ; di sana awan mendung ketidakpastian bergayut kepada kami pada mulanya.

Tetapi saya sangat gembira [mantan presiden Iran], Khatami, hanya beberapa jam kemudian, mengeluarkan pernyataan mengkritik tindakan itu. Ia adalah reaksi sangat penting kepada Iran, dan untuk membina dasar polisi di Iran, untuk mengeluarkan pernyataan seperti itu begitu cepat. Saya tahu keadaan dan perincian yang berkaitan dengan pernyataan itu. Khatami secara peribadi memutuskan untuk mengeluarkan pernyataan, dan dalam hal tersebut ia tidak bahkan berbincang kepada dengan penasihat terdekat. Ia juga tidak melakukan sebarng rundingan dengan para pejabat senior lainnya di negeri ini. Ia berdasarkan sebuah keyakinan peribadi yang snagat tinggi yang membawa tindakannya yang begitu cepat.

Jika peristiwa 9 / 11 tidak pernah berlaku pun, Iran adalah telah bermusuh dengan Taliban. bahkan sebelum 9 / 11, Iran berada di ambang perang dengan Taliban dan pasukan Iran telah pun ditempatkan di sempadan timur Afghanistan.


Secara historis, terdapat perbezaan utama antara Al Qaeda dan Taliban dan Iran. Dan kelompok terbesar yang memerangi Taliban adalah mujahideen [Afganistan] yang didukung oleh Iran, dan merupakan pengalaman mujahideen yang melakukan usaha terbesar bagi menumbangkan Taliban. Ianya cukup semulajadi bagi Iran untuk menggunakan setiap kesempatan untuk melakukan pukulan keras terhadap Taliban di Afghanistan.


Kami memiliki sedikit jangkaan, pada kemuncak perjuangan untuk melakukan reformasi yang jelas, tidak harus menjadi seperti seperti ini. Secara politiknya, ia adalah perkara yang aneh untuk dilakukan. Kami telah membantu untuk menjatuhkan Taliban - malahan membuka jalan kepada kerjasama yang lebih besar, mereka kembali menggunakan slogan - the "Axis of Evil." Itu adalah strategi besar Bush dan kesilapan politiknya.


Alasan utama untuk kesalahan ini, saya kira, ialah bahawa Amerika tidak mengetahui tentang Timur Tengah. Ketika perang Iraq berlangsung kami telah dimaklumkan tentang kepercayaan itu. Mereka benar-benar tidak memahami Timur Tengah dan wilayah kami. Setelah Iraq dan Afghanistan, mereka telah mengambil sebuah pendekatan untuk kejayaan penuh mengalahkan terorisme di dunia. Di rantau kami tidak ada seorang pun yang menyukai Taliban dan tidak ada seorang pun yang menyukai Saddam Hussein, tetapi karena mereka tidak memahami rantau itu, kedua-dua kes, yang mungkin telah memberikan kesempatan untuk mengalahkan terorisme, telah menyebabkan menularnya tindakan ekstrimis.


Pertama, kemampuan negara-negara di wilayah ini sangat berbeda dengan kemampuan Amerika Serikat, yang telah datang dengan semua kekuatan militer untuk mengalahkan terorisme. Kedua, saya bukanlah jurucakap kerajaan, tapi saya tahu bahwa masalah Palestina adalah salah satu yang telah memenuhi ruang waktu yang begitu lama.


Saya menganggap Israel sebagai sumber dari berbagai masalah serantau dan di dunia, dan pada dasarnya saya rasa nasihat yang diberikan Israel kepada Amerika Serikat merupakan alasan untuk kekalahannya di daerah kami. Kepentingan Israel telah diberikan prioriti di atas kepentingan Amerika. Ia bukanlah kepentingan AS untuk melihat tindakan ekstrimis menular kepada beberapa peringkat di wilayah ini.


Berkaitan dengan masalah Palestin, Khatami mengusulkan satu rancangan agar ada demokrasi yang sama seperti yang anda dapati di seluruh dunia. Mereka harus ada pilihanraya, dan setiap orang, apa pun agama, patut menyertai dalam kerajaan dan berhak untuk memilih kerajaan mereka. Malangnya, satu keperihatinan besar bagi cerdik pandai Timur adalah bahawa ketika kita berbicara tentang demokrasi, para pendengar bertanya kepada kami mengapa demokrasi terhenti di sempadan Israel.


Mengenai Iraq, saya fikir semua negara serantau telah mencampuri urusannya sana. Salah satu kesilapan terbesar besar Amerika Serikat adalah, jika tidak secara langsung, sekurang-kurangnya secara tidak langsung tersirat bahawa kumpulan Iraq tidak akan menjadi yang terakhir [to be tackled] di rantau itu ; ada kumpulan-kumpulan yang lain untuk ditempatkan di atas meja. Jadi adalah semulan jadinya bahawa semua negara di kawasan itu melakukan perkara yang terbaik untuk melihat isu rakyat Iraq yang tidak pernah diselesaikan, untuk kumpulan-kumpulan Iraq secara buka. Hal ini menyebabkan usaha semua negara di kawasan itu untuk mencampuri urusan di Iraq, yang menentang cubaan untuk menjajah Iraq, dan ini akan membawa proses demokrasi Iraq akan menemui kegagalan. Arab Saudi berperanan dalam hal ini; Syria mempunyai peranan khusus ; Turki turut berperanan. Dan Iran - saya akan menjelaskan mengapa peranan Iran berbeza dengan yang lain.


Perbezaan dalam kes Iran adalah, bahawa Iran merupakan pusat bumi bagi penganut Syiah di dunia. Iraq juga memiliki majority Shi'ah. Semulajaninya, terdapat common ground di antara kedua negara. Terdapat hubungan kekeluargaan, persamaan nilai-nilai agama ; Orang-orang Iraq berada dalam wilayah Iran pada beberapa titik temu. Maka kedua belah pihak telah banyak persamaan. Untuk beberapa waktu selepas pilihanraya demokrasi di Iraq, dakwaan terhadap Iran menengahi urusan di Iraq telah berkurangan, tetapi setelah pemusnahan kuil Samarra bab baru telah bermula. Orang-orang syiah telah mengambil peranan yang baru.


Seperti yang telah saya katakan, saya tidak berbicara sebagai jurucakap kerajaan, dan saya tidak tahu apa-apa tentang campurtangan Iran di Iraq, tetapi ada aspek-aspek lain untuk isu Iraq. Sebagai contoh, masalah nuklear Iran dan masalah-masalah lain [antara Iran dan AS] transformasi Iraq menjadi tempat yang baik bagi Iran untuk cuba menggunakan Iraq bagi mengatasi masalahnya dengan Amerika Serikat pada umumnya.


Di antara kelompok pembangkang Saddam dan negara-negara yang bertentangan dengan Saddam, jelas Iran dan Kuwait adalah dua negara penting. Sebuah perbezaan utama antara Iran dan Kuwait adalah bahwa rakyat Iran percaya bahwa Saddam harus dijatuhkan tanpa menggunakan cara untuk memaksa, dan rakyat Kuwait ingin melihat Saddam disingkirkan menerusi peperangan. Jika Saddam itu akan dihapus tanpa perang, jika ada kesempatan untuk melakukan sesuatu dari dalam atau melalui dialog atau tekanan lain, kami tidak akan memiliki banyak jenis krisis yang diikuti. tetapi saya cukup tidak mengetahui ada rundingan yang khusus atau perancangan antara Iran dan AS untuk menghapuskan Saddam Hussein dari kekuasaan.


Seperti yang saya jelaskan lebih awal, persoalan mengenai hubungan Iran-AS selalu - bukan hanya sekarang - memiliki elemen dalaman dan ianya bukan semata-mata sebuah isu politik luar negeri. Ianya penting untuk Iran, yang mana telah memiliki revolusi dan dan ingin memimpin dunia Islam, memiliki musuh besar dan penting seperti Amerika Serikat. Jadi secara lebih tepat banyak alasan dari inisiatif-inisiatif untuk mengatasi masalah dalam hubungan antara kedua negara yang selalu dipenuhi oleh halangan, karena keperluan menjadikan Amerika sebagai musuh dapat dikompromi. Dan di sisi lain, Amerika terus aktif memprovokasi tindakan terhadap Iran, mereka melanggar hak-hak Iran. Ini semua adalah dengan cara efektif, tetapi politik domestik selalu memiliki sesuatu untuk dilakukan dengan hubungan-hubungan.


Pertama-tama, saya ingin mulakan dengan bahagian terakhir soalan anda. Saya jangkakan bahawa tidak akan ada pertembungan ketenteraan antara Amerika Syarikat dan Iran. Kedua belah pihak sukar yang akan, terutama selepas Iraq. Mereka tidak begerak kea rah yang jauh ke depan untuk melakukan perang ketenteraan.


Yang kedua adalah bahwa pada saat ini, perkara yang negatif adalah bahawa baik di Iran dan Amerika Serikat, pemimpin di kedua negara tidak melihat diri mereka sebagai ahli politik, mereka juga melihat dirinya sebagai melaksanakan perintah Tuhan. Mereka telah meninggalkan tanah sedikit, dan itu sangat berbahaya bagi dunia.


Dan ketiga, menanggapi masalah domestik di Iran dan AS, hubungan antara Amerika dan Iran tidak akan segera baik bila-bila masa pun. Karena situasi pada saat ini, kurangnya hubungan-hubungan merupakan isu mendorong dan satu kapital yang berat oleh kedua pemimpin.


Saya ingin mengakhiri titik perbualan. Mendukung Taliban dan Al Qaeda adalah sebuah fenomena di negara-negara Arab ; kecenderungannya wujud di sana. Tetapi di Iran, kami tidak cenderung untuk dukungan seperti itu. Ini adalah sesuatu yang sangat penting. Dari berbagai sudut, termasuk dari perspektif agama - mereka sangat anti-Shi'ah - dan juga dari segi bahasa - mereka adalah Arab biasa - dan kami telah memiliki masalah sejarah hubungan dengan mereka, dan secara geografis, maka Taliban tidak dapat mengambil sumber-sumber di Iran. Hal ini sangat penting dan boleh menjadi ruang umum untuk membina kerjasama untuk melawan terorism, atau paling tidak gaya terrorism Taliban di wilayah ini.



http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/showdown/interviews/abtahi.html#2

Hubungan Iran – Afghanistan.

Hubungan Iran-Afghanistan adalah hubungan antara dua negara berjiran di Asia Tengah. Hubungan ini telah dibentuk sejak pertama kali Afghanistan didirikan sebagai sebuah negara.

Afghanistan berkongsi begitu lama dan saling menjalin sejarah dengan Iran, sebagai bangsa yang pernah menjadi bagian dari Persia kuno. Terdapat juga hubungan mendalam dari aspek bahasa, dan masyarakatnya dan budaya. Sebagai dialek timur Parsi, Parsi Dari adalah bahasa yang dominan di Afghanistan, terutama dalam bidang pendidikan dan perniagaan. meskipun demikian, hubungan Afghanistan - Iran telah bergoncang semasa era modern, kerana penguasaan Taliban di Afghanistan pada tahun-tahun 1990-an dan berkala dengan sengketa hak pemilikan air dari Sungai Helmand sebagai isu utama saat permusuhan.

Setelah penjajahan Soviet dari Afghanistan, yang ditentang oleh Iran, hubungan merosot. Konsulat Iran yang ditutup di Herat, sebagai balasan, iran menutup konsulat Afghan di Mashad. Iranians yang mengkritik pelanggaran melampaui batas periodik berikutan penjajahan Soviet. Pada tahun 1985, mereka mendesak feuding Afghan Shi'a kelompok perlawanan untuk bersatu untuk menentang Soviet. Iran menyokong pemberontak Afghanistan dan memberikan bantuan terhad dalam kewangan dan ketenteraan kepada pemimpin pemberontak yang berjanji kesetiaan kepada visi revolusi Iran. Iran memberikan perlindungan sekitar 2 juta pelarian Afganistan, meskipun ia menolak untuk menerima lebih banyak pelarian pada tahun-tahun kemudian dan sememangnya mereka berusaha untuk memaksa mereka untuk pulang ke Afghanistan.

Berikutan munculnya penguasaan Taliban dan perlakuan kasar mereka terhadap minoriti Shi'ah Afghan, Iran mula meluaskan bantuannya kepada pihak Pakatan Utara. Hubungan dengan Taliban semakin buruk selanjutnya pada tahun 1998 setelah pasukan Taliban menangkap konsulat Iran di Mazari Sharif dan membunuh diplomat Iran. Selepas kejadian ini, Iran hampir berperang dengan Taliban di wilayah Afghanistan namun campurtangan Majlis Keselamatan PBB dan Amerika Syarikat telah menghalang serangan daripada Iran.

Sejak tahun 2001, pemerintah baru kerajaan Hamid Karzai telah terlibat dalam hubungan begitu mesra dengan Iran dan Amerika Syarikat, sekalipun hubungan antara Amerika dan Iran semakin tegang kerana bantahan Amerika terhadap program nuklear Iran. Namun, ketegangan hubungan dengan Amerika Serikat tidak menghalang Teheran mengukuhkan kerjasama ekonomi dan perdagangan dengan Kabul. Iran merupakan kunci utama dalam penggulingan Taliban dan telah membantu kembali ekonomi dan infrastruktur Afghanistan.

Iran telah melibatkan diri dalam projek membina jalan, saluran penyiaran, dan stesen-stesen perbatasan, antara projek infrastruktur lain yang akan menjadikan hubungan kedua negara lebih baik. Selain itu, perdagangan antara kedua negara telah meningkat secara drastik sejak penggulingan Taliban pada tahun 2001. Kolonel Christopher Langton, ketua Analisis Jabatan Pertahanan untuk ‘International Institute for Strategic Studies’ di London, mengatakan Iran merupakan suatu negara penting dalam pembinaan dan pembangunan Afghanistan pada masa depan, menyatakan:

"Mereka menjadi bekerjasama rapat menerusi usaha melawan Taliban pada masa lepas, juga kerana pengaruh yang boleh dibawa oleh Iran terhadap penduduk Hazara [minoriti Shi'ah Afghan]. Dan dalam sektor pembangunan, sudah ada projek yang mana melibatkan Iran - misalnya, pembinaan jalan dari bandar Abbas di Teluk Persia atas melalui Afghanistan ke Asia Tengah yang sangat penting untuk projek masa depan Afghanistan, " kata Langton. "Terdapat senarai daftar penglibatan politik, ekonomi, dan masalah keamanan yang menghubungkan Afghanistan dan Iran.

Menurut pengerusi Majlis Perdagangan dan Industri Afghanistan, eksport Iran ke Afghanistan pada 2008 sebanyak $800 juta. IRNA pula melaporkan Mohammad Qorban Haqju berkata bahwa Iran mengimport $ 4 juta nilai produk seperti buah-buahan segar dan kering, mineral, batu permata, dan rempah ratus dari Afghanistan. Dia mengatakan Iran pula mengeksport produk minyak, simen, bahan pembinaan, karpet, peralatan perabot rumah, dan alat pencuci.

tenteradajjal.blogspot.com

Tuesday, March 31, 2009

Lobi Iran di Amerika

terjemahan dan suntingan oleh Pn. Siti Hawa Ramly.

Hasan Daioleslam dilahirkan di Teheran pada 1957, mempunyai sejarah pendidikan yang amat menarik. Setelah menamatkan pengajian di sekolah rendah dan menengah, beliau memasuki politeknik Universiti Tehran pada 1974. Pada tahun 1979, setelah tamat revolusi Iran beliau menjadi pemimpin gerakan mahasiswa yang melancarkan penentangan terhadap penindasan dan pembunuhan beramai-ramai oleh kerajaan Khomeini. Beliau akhirnya meninggalkan Iran untuk menetap di Perancis. Sepanjang tahun 1980-an dan awal 1990-an, beliau bergerak aktif dalam gerakan sekular Iran, menjadi aktivis bagi gerakan hak asasi manusia dan melancarkan pembelaan terhadap tahanan politik Iran.

Hassan berpindah ke Amerika pada 2001, dan menumpukan perhatian terhadap penyelidikan politik. Bermula tahun 2005, beliau bekerjasama dengan wartawan bebas Iran dengan memusatkan perhatian terhadap penglobian rejim Iran di Amerika. Laporan-laporan beliau telah diterbitkan secara menyeluruh oleh website utama berbahasa Parsi dan beberapa jurnal di Amerika. Beliau sering kali diundang sebagai tetamu dalam rancangan Voice of Amerika TV dan media-media Parsi.

Berikut adalah suntingan dari temubual beliau dengan Majalah Frontpage yang bertajuk “Iranian Lobby in U.S” :

Selama satu abad polisi Amerika terhadap Iran memang penuh dengan kekeliruan dan salah faham. Ini bukan secara kebetulan. Ini kerana faktor utama dalam membentuk polisi ini telah didalangi oleh kempen-kempon golongan pro-Iran di Amerika. Hasilnya salah faham ini telah melibatkan nyawa rakyat Amerika, jutaan ribu wang pembayar hasil Amerika dan yang lebih teruk adalah timbulnya ancaman-ancaman mullah Teheran sebagai super power nukear yang dominan di rantau itu. Kita mesti faham jaringan pengaruh Iran di Amerika. Ini adalah masalah keamanan negara.

Ada dua kumpulan yang berbeza amat aktif dan berkait rapat dalam memanipulasi polisi Amerika terhadap Iran.

Pertama ialah mereka yang saya panggil Iranian rejim lobby in US. Mereka ini hadir dalam media-media kumpulan ahli fikir dan gugusan kumpulan organisasi. kegiatan lobi mereka difokuskan di Kongres Amerika. Kumpulan ini mempunyai kaitan multi-level dengan Teheran.

Kedua ialah kumpulan yang lebih menumpu kepada ekonomi Amerika di mana mereka beroperasi selari dengan kepentingan perniagaan terutama industri petroleum. Kelompok ini mensasarkan kepentingan mereka ke atas ekonomi Iran. Dan mereka gusar bahawa polisi-polisi mereka yang tegas terhadap ulama’ akan merugikan kepentingan global mereka.

Sadegh Kharrazi, bekas wakil luar negeri Iran (1997-2003) yang menetap di Amerika merupakan perancang proses lobi ini. Dalam satu wawancara yang disiarkan di suratkhabar Suargh bertarikh 26 Mei 2006, beliau berbicara tentang strategi rejim Iran dan juga berulangkali untuk mengatasi lobi Israel di Amerika. Beliau juga secara terbuka mengaku wujudnya lobi Iran di Amerika, tetapi menekankan ia mestilah kekal sebagai non-govermental. Namun begitu kerajaan harus memberi sokongan mengadakan promosi dan dapat bergantung kepadanya.

Para pelobi ini wujud secara ilusi dan tidak didaftarkan, dalam melancarkan impian melobi di Washington. Tetapi yang disebut Kharrazi, terdapat satu badan lobi Iran wujud secara tidak rasmi di Amerika. Apa yang perlu dibandingkan ialah keperluan dan kehendak rejim Iran pada ketika tertentu dan aktiviti kumpulan ini. Selepas itu semuanya akan jelas.

Pada April 2007, saya telah menerbitkan tentang “Iran’s oil mafia, penetreating U’S Congress”. Artikel ini telah disiarkan di Frontpage, dan saya telah berbicara tentang NIAC, yang ditubuhkan oleh Trita Parsi, yang merupakan penasihat kepada Bob Ney (a convicted Congressman), selepas artikel itu diterbitkan, secara tersusun suratkhabar pro kerajaan Iran telah menyelamatkan NIAC dan menulis bahawa neocon dan pelobi Israel sedang menyerang pelobi Iran . seperti yang anda dapat lihat media-media Iran telah melabelkan NIAC sebagai pelobi Iran. [Lihat Ghods Daily, 21 April 2007]. Pada 28 Disember 2006, suratkhabar pro-pemerintahan Iran telah menyiarkan sebuat wawancara dengan Parsi. Dalam muqaddimahnya, editor telah menggariskan tentang peranan yang dimainkan oleh pelobi Iran. Di Amerika dan melabelkan mereka sebagai orang-orang mullah.

Pada tahun 1999, Trita Parsi yang tinggal di Sweden bersama dengan Siamak Namazi dari Teheran telah memperincikan kertas seminar dan membincangkan cara untuk mewujudkan penglobian Iran-Amerika di U.S. Menurut mereka “penglobian” ini perlu untuk mewujudkan keseimbangan saingan antara pelobi Timur Tengah. Tanpa penglobian ini, hentaman ke atas Iran akan menjadi popular semula di Kongres U.S. Mereka kemudian memperincikan fungsi AIPAC (kumpulan pelobi Israel) dan sepakat mengatakan bahawa kumpulan pelobi Iran harus mengikut jalan yang sama.

Siamak Namazi merupakan rakan kongsi Trita Parsi lebih dari satu dekad. Untuk memahami hubungan antara NIAC dan rejim Iran, pertama kita harus memahami posisi Namazi di Iran. Keluarga Namazi bersama Bijan Khajehpour dan Albrecht Frisechenslager, telah mengawal firma Atieh Bahar di Tehran. Jalinan hubungan ini adalah merupakan kerjasama secara langsung dengan rejim Iran. Khajehpour’s Qashehm Energy adalah kerjasama dengan pihak bertanggungjawab Qhesh (pemerintah). Frichenschlager pula mempunyai kerjasama dengan pemerintah wilayah. Ia juga bekerjasama dengan Hatami Yazd, seorang tokoh terkenal dalam organisasi mafia minyak Iran dan mantan tiga bank Iran yang penting. Semuanya di bawah kebenaran U.S. Babak Namazi juga salah seorang penggubal undang-undang foreign investment untuk kerajaan Iran. Atieh dan menteri minyak Iran bersama-sama merancang kegiatan yang berkait dengan minyak. Contohnya, dua daripada klien penting Attieh ; French Total Oil Company dan The Norway Statoil perlu merasuah sebanyak puluhan juta untuk menembusi pasaran Iran.

Untuk memastikan hubungan “Lobi Iran-Amerika” beberapa siri persidangan diadakan untuk menarik perhatian golongan muda yang naïf. Dalam konferen “Diaspora”, Babak Namazi dan Parsi terlibat bersama peserta yang aktif, Salah satu konferen yang dilaksanakan di Tehran pada 26 Januari 2006, Bapa Namazi – Bagher telah menjadi tuan rumah. Hubungan Namazi dan Parsi melangkaui perancangan penglobian.

Meninjau kepada website NIAC, hampir semua usaha mereka tertumpu kepada polisi U.S terhadap rejim Iran. Dalam artikel terkini NIAC, Parsi begitu jelas sekali mempromosikan agar U.S berkongsi memerintah Timur Tengah dengan Iran.

“Bolehkan Iran dan Amerika berkongsi di Timur Tengah?”.. fakta yang menunjukkan sebaliknya. Pengaruh regional Iran tidak dapat di sangkalkan lagi dan membelakangkan pengaruh di Lebanon, Iraq, Afghanistan dan Gazza tidak lagi realistik. Lambat laun Iran dan Amerika harus belajar untuk berkongsi wilayah. Secara terbuka, mejoriti orang Iran di Amerika membeci pemerintahan rejim Iran sekarang, dan juga tindak tanduk mereka yang barbaric ke atas penduduk Iran! Persoalannya bila NIAC akan mengambil perhatian kepada pendapat mereka. Rakyat Iran-Amerika amat mengambil berat ke atas pembunuhan kanak-kanak, pembunuhan secara besar-besaran, hukuman rejam mati, penindasan mahasiswa, kemasukan fundamentalism Islam di daerah-daerah, permainan nuklear mullah, yang tampaknya mampu memusnahkan negara islam, pencurian harta negara oleh elit mullah, mafia minyak dan ekonomi, serta pelbagai kekejaman. Bila NIAC akan prihatin terhadap masalah ini.Sebaliknya, program-program NIAC dan segala aktivitinya, menjurus isu-isu ini. Komuntiti Iran di Amerika adalah klumpulan yang berpengaruh dan berpendidikan. Tetapi semua ini terganggu oleh imej negative utama di Teheran. Langkah pertama untuk mengembalikan prestij Iran di Amerika ialah dengan menyatakan rejim ini tidak mewakili rakyat Iran. Tetapi NIAC bertindak sebaliknya. Mereka menunjukkan data yang bangsa Iran menyokong pemerintahan barbaric ini. Ini secara tidak langsung menghina rakyat Iran.

Pada tahun 2006 bila Ahmadinejad memulakan konfrontasi menerusi program nuklear Iran, satu kumpulan pelobi telah dilancarkan di Eropah dan Amerika. Kempen CASMII diselia oleh Abbas Edalat, seorang professor computer yang terbabit dengan orang-orang penting dalam rejim Iran. Separuh ahli pengarah CASMII adalah sayap kiri Iran yang anti-emperor yang melihat kepada laungan Ahmadinejad sesuatu yang progresif. Jika melihat kepada CASMII ialah banyak mempertahankan impian nuklear rejim Iran.

Amerika telah menyalurkan kritikan-kritikan mereka dan pemerintah Amerika sekarang untuk menyokong ciri-ciri paling radikal rejim Iran. Personaliti-personaliti dan kumpulan-kumpulan Amerika ini telah dengan terang-terang menunjukkan dengan sokongan mereka dan menjadi sekutu dengan pemerintahan diktator pada zaman moden ini. Tanpa menghiraukan perasaan rakyat Iran, yang merupakan mangsa utama diktator ini.

CASMII selalu menganjurkan lawatan ke Iran, unutuk sesuatu kumpulan di Amerika. Sebaik sahaja pulang CASMII akan mengaturkan satu sidang akhbar yang menyatakan betapa positifnya kedaan di Iran. Ini mengingatkan kepada era perang dingin Soviet Union di mana pelawat-pelaewat akan memuji Stalin. tahun lepas apabila komuniti antarabngsa menyatakan bahawa hukuman gantung di khalayak ramai oleh pemerintahan mullah, phil wilayanto yang menerajui people peace delegation to Iran telah memberi respon terhadap ‘tuduhan’ ini. Menurut beliau memang benar Iran mempunyai hukuman mati tetapi tidak sekerap yang dilakukan seperti di Amerika. Kami tidak melihat kemarahan rakyat terhadap kerajaan Iran. Selepas temubual dengan orang awam Iran dari pelbagai lapisan, memang terdapat rungutan, tetapi lebih kepada sekatan yang dilaksanakan oleh Amerika.

Nampaknya kewujudan kalangan pemikir Amerika dan golongan akademik memberikan peluang yang unik untuk pegawai-pegawai Iran diangkat sebagai ahli akademik. Di Boston sebdiri tiga daripada bekas timbalan menteri luar Iran telah dilantik oleh tiga universiti yang berprestij. MJ Mahallati dan Farhad Atai, kedua mereka telah dilantik sebagai ahli akademik dan ahli pengarah di ILEX Fondation, Boston. Disamping itu terdapat ketua pelobi Iran, Abbas Maleki yang menjadi timbalan menteri Luar untuk lapan tahun yang merupakan juga penasihat kepada pemimpin agung telah memulakan kariernya di Harvad. Masyarakat sering bertanya soalan ini. Maleki tidak pernah menyembunyikan tujuan beliau sewaktu kunjungan beliau ke Iran baru-baru ini. Dalam ceramah, beliau telah gariskan cara-cara untuk mengatasi (ketuanan) kepimpinan Amerika. Dalam erti kata lain beliau telah cuba memperdaya dan mempengaruhi rakyat Amerika.

Kita perlu mempercayakan antara mereka yang ikhlas mempercayai wujudnya persahabatan dengan rejim Iran dan mereka secara sistematik dan sengaja memanipulasi penadapat rakyat Amerika dan sistem membuat keputusan. Impian mereka ialah agar tiada keputusan yang tegas ke atas rejim Iran. Mereka ini ialah kumpulan yang memonopoli industri minyak di Iran. Melalui media dan kumpulan pemikir mereka bekerja keras untuk melembutkan kepimpinan rejim Iran di dalam dan luar negara dan memburukkan pengkritik mereka. Mereka ini merupakan kumpulan yang membentuk ayatollah di Tehran untuk dekat yang lalu telah mengelirukan penggubal polisis-polisi Amerika dan membuatkan ia lebih sukar untuk menentang pemerintahan ulama’.

Tujuan mereka ialah untuk melindungi kelemahan rejim Iran. Untuk mengelirukan motif-motif mullah dan menidakkan ancaman Iran terhadap keselamatan dunia dan kepentingan nasional Amerika.

Kempen pro-tehran ini dilancarkan ketika pemerintahan Khatami. Tujuan utama adalah untuk menyembunyikan bahawa Khatami tiada kaitan dan tiada kuasa dan untuk mewakili kerajaan baru sebagai satu trend yang tidak boleh di ‘undo’ yang mana kerajaan Amerika perlu ikuti.

Seperti negara-negara di sekeliling Iran yang masih mengalami transformasi.. Secara perlahan-lahan, kerajaan mullah telah dipaksa untuk menerima sistem pemerintahan sekular dan menurunkan kuasa kepada rakyat Iran. Dalam prosos ini Iran telah mula memberi sumbangan kepada penyebaran publics empowerment di seluruh dunia [ Suzanne Malony]. Pilihanraya 2006 telah member bukti kukuh bahawa sistem ini semakin berkembang ke arah demokrasi. [Ray Takeh] selepas ini institusi akan jatuh ke tangan penggerak reformasi ialah bidang penghakiman. Perubahan bidang kehakiman ini akan mengurangkan lagi kuasa pemerintah yang konservatif. Dalam dekad yang akan datang, Nampak gayanya kedudukan pemerintahan akanmengalami transformasi kerana kekuasaan sepenuhnya pemerintah akan dicabar dalam kedua-dua corak pemerintahan ulama’ dan sekular.

Pada julai 2004, satu Council untuk hubungan luar negara telah menerbitkan Task Force Report Iran , di mana Suzanne Malony telah menjadi pengarah projeknya. Laporan ini telah menyarankan pendekatan dengan rejim Iran. Satu polisi yang sama seperti yang diwar-warkan sejak tujuh tahun yang lalu. Tetapi uniknya laporan ini telah menganalisis kuasa rejim Iran selepas kekalahan kumpulan reformasi di dalam dua pilihanraya 2003 & 2004. Ingat, laporan CFR ini telah dikeluarkan pada masa ketika di mana kebanyakan penganalisis Iran menganggap ia sebagai titik perubahan di dalam Republik Iran. Ketika sejumlah besar para penganalisis Iran, para cendekiawan dan cerdik pandai memberi amaran kepada rakyat Iran dan komuniti antaranbangsa mengenai kebangkitan satu paksi radikal yang mewakili Revolutionary Guards. Laporan CFR langsung tidak menyentuh ia telah menemui satu ascending pragmatic faction di Iran. Iran sedang mengalami satu proses perubahan dalaman yang akan secara perlahan-lahan melahirkan kerajaan secara responsif terhadap kehendak rakyat dan lebih bertanggungjawab dalam pendekatan kepada komuniti antarabangsa.

Peningkatan berlaku bermula pada tahu 2003, bila beliau menjadi warga Tehran. Pada tahun 2003-2005 sejumlah pakar Iran sibuk mengumpul imaginary pragmatic faction, bersedia untuk memenuhi kehendak exigencies antarabangsa (Suzanne Malone 2004)

Realitinya situasi selepas perang di Iraq dan kemunculan kuasa Amerika di sepanjang sempadan Iran telah mengukuhkan polisi rangka pragmatik konsertvatif yang mencari penyelsaian praktikal kepada peningkatan situasi yang buruk. Di bawah banner pemikiran baru kumpulan ini memiliki ruang waktu menyusun semula kepentingan domestik Iran dan hubungan antarabangsa (MPJ 2000, Nov) .

Kemudian pada tahun 2005 Ahmadinejad telah mengambil tampuk kepimpinan dan miraj pragmatik hilang perlahan-lahan. Ray Takeh dan rakan-rakannya telah memulakan kempen baru ‘mengelirukan’. Pertama mereka telah cuba melembutkan ancaman rejim Iran. Disebalik keperihatinan yang ditunjukkan presiden baru tidak menunjukkan minat untuk mengubah bentuk polisi antarabngsa Iran dan juga kuasa utama negara, iaitu pemerintah agung.. tetapi pendapat yang mengatakan polisi luar negara Iran sedang melalui satu perubahan radikal yang amat berlawanan dengan polisi Republik Iran dan sentimen-sentimenya.

Bila kejanggalan perbalahan ini menjadi realiti, cerdik pandai Iran telah cuba untu mempromosi pemimpin yang pragmatik baru Iran, yang mengawal keadaan.

Takeyh dalam testimoni di Senate Foreign Relations Committee 19 September 2006, Kehadiran Presiden Ahmadinejad di arena antarabangsa dengan imejnya yang lantang tidak merubah kenyataan bahawa dia tidak berlkuasa ke atas hubungan luar Iran. Salah satu satu daripada watak penting dan berkuasa di Iran hari ini ialah Ali Larijani, Setiausaha Majlis Tertinggi Keselamatan Kebangsaan. Beliau mempunyai pengaruh kuat ke atas hubungan luar Iran, dan menanyakan seorang pemerintah generasi baru yang berkembang dalam intelijen komuniti 1990. Menerusi kewujudan mereka dalam institusi, penting, dan hubungan dengan golongan ulama’ tradisional dan hubungan istimewa dengan pemimpin agung, kumpulan ‘realist’ ini telah menguasai hubungan luar negara. Kerajaan Iran telah mengenakan kawalan ketat dan melancarkan satu siri raly oleh kumpulan militia untuk menyokong program nuklear. Pihak Amerika mula memperkatakan program iran ini telah disokong oleh majoriti rakyat Iran.

Kempen ini telah diketuai oleh Robin Wright, beliau telah menulis dalam Washington Post, 14 November 2004, rakyat Iran berbelah bagi tentang politik, ekonomi, fungsi agama dalam kerajaan dan juga kod pakaian untuk wanita, tetapi kesemua golongan setuju bahawa Iran memerlukan kuasa nuclear walaupun mereka mempunyai kekayaan minyak dan gas. Dunia tidak sepakat menghalang mereka daripada teknologi walaupun dia dapat digunakan untuk membangunkan senjata. Artikel Wright telah dicetak oleh akhbar pro-kerajaan Iran.

Persoalannya siapa yang memberitahu kepada Wright tentang Iran? beliau ada menyebut Abbas Maleki ketua institut penyelidikan Caspian di Teheran.. namun juga Maleki juga bekas timbalan menteri luar Iran dan penasihat kepada pemimpin agung. Wright menekankan tidak penting mengupas cerita ini. Bila Iran dirujukkan kepada Majlis keselamatan PBB dan tindakan telah dikenakan terhadap Iran. Terdapat suara yang menyokong ‘censorship’ rejim Iran dan menolak program nuklear. Wartawan yang sama menonjolkan demonstrasi Basiji, sebagai tanda sokongan untuk impian nuklear Ayatullah telah mengabaikan realiti akan penentangan terhadap rejim. Ribuan cerdik pandai, ketua-ketua pelajar wartawan dan ulama’ telah membangkang program, tetapi kami tidak dapat menjejaki mereka di dalam media.

Semua orang termasuk mullah di Iran mempunyai hak untuk menyuarakan pendapat dan meyakinkan orang lain. Saya tidak langsung bermaksud untuk menidakkan hak sesiapa. Tetapi saya yakin akan berlaku kemusnahan hakiki yang berpunca daripada usaha-usaha yang berunsur politik yang dibayangi oleh cita-cita akademik, aktiviti cerdik pandai dan ‘empowering’ orang ramai.keadaan ini yang saya cuba perangi kerana ini akan menghasilkan kekeliruan, dan ini amat bahaya.

tenteradajjal.blogspot.com.